
Tokutei Ginou (特定技能) adalah program visa kerja di Jepang yang dirancang untuk tenaga asing dengan keterampilan tertentu.
Program ini memungkinkan pekerja dari berbagai negara untuk bekerja di sektor-sektor yang membutuhkan tenaga kerja tambahan, seperti perawatan lansia, industri makanan dan minuman, konstruksi, dan lainnya.
Namun, meskipun program ini terbuka bagi banyak orang, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon pekerja. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: Apakah orang bertato bisa mendaftar Tokutei Ginou?
Jawabannya adalah tidak bisa, atau setidaknya akan menghadapi hambatan yang sangat besar. Hal ini disebabkan oleh stigma negatif terhadap tato di Jepang, yang masih sangat kuat dalam budaya dan masyarakat mereka.
Baca juga: 7 Hal yang Harus Kamu Tahu tentang Bill Gates Scholarship
Mengapa Tato Masih Dilarang di Jepang?
Di banyak negara lain, tato dianggap sebagai bagian dari seni atau ekspresi diri. Namun, di Jepang, tato masih memiliki konotasi negatif yang dalam.
Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa tato menjadi penghalang dalam mendapatkan pekerjaan, termasuk melalui program Tokutei Ginou:
1. Dikaitkan dengan Yakuza dan Kriminalitas
Sejarah tato di Jepang sangat erat kaitannya dengan kelompok kriminal terorganisir yang dikenal sebagai Yakuza. Anggota Yakuza terkenal memiliki tato yang rumit dan mencolok sebagai simbol identitas mereka.
Oleh karena itu, banyak masyarakat Jepang, terutama generasi yang lebih tua, masih menganggap tato sebagai tanda keterkaitan dengan dunia kejahatan.
2. Dianggap Sebagai Simbol Kejahatan dan Kurangnya Profesionalisme
Dalam lingkungan kerja Jepang, profesionalisme sangat dijunjung tinggi. Penampilan seseorang, termasuk pakaian dan kebersihan diri, dianggap sebagai cerminan dari etos kerja dan kredibilitasnya.
Karena tato sering dikaitkan dengan kriminalitas, memiliki tato bisa membuat seseorang dianggap kurang profesional atau bahkan tidak dapat dipercaya oleh perusahaan.
3. Menimbulkan Ketidaknyamanan di Tempat Kerja
Budaya kerja di Jepang sangat mengutamakan harmoni sosial. Jika seseorang memiliki tato yang terlihat, terutama dalam lingkungan kerja yang konservatif, hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi rekan kerja atau klien.
Beberapa perusahaan bahkan memiliki aturan ketat yang melarang karyawannya memiliki tato yang terlihat.
Dampak Tato Terhadap Peluang Kerja di Jepang
Karena stigma negatif ini, memiliki tato bisa menjadi hambatan besar bagi orang asing yang ingin bekerja di Jepang, termasuk melalui program Tokutei Ginou.
Beberapa dampak yang mungkin dihadapi oleh seseorang dengan tato antara lain:
1. Sulit Mendapatkan Pekerjaan di Sektor Formal
Banyak perusahaan di Jepang, terutama yang bersifat tradisional atau pemerintahan, menerapkan kebijakan ketat terhadap penampilan karyawan mereka.
Jika pekerjaan tersebut mengharuskan karyawan untuk menggunakan seragam atau pakaian kerja yang memperlihatkan bagian tubuh, maka tato bisa menjadi alasan utama penolakan dalam proses rekrutmen.
2. Terbatasnya Pekerjaan yang Berhadapan dengan Klien
Bagi pekerjaan yang melibatkan interaksi langsung dengan pelanggan atau klien, seperti layanan pelanggan, restoran, atau perhotelan, tato bisa menjadi penghalang besar.
Perusahaan tidak ingin citra mereka terpengaruh oleh karyawan yang memiliki tato, karena sebagian pelanggan masih memiliki persepsi negatif terhadapnya.
3. Dilarang Masuk ke Beberapa Fasilitas Umum
Di Jepang, bukan hanya perusahaan yang memiliki aturan ketat terhadap tato. Beberapa fasilitas umum juga memiliki kebijakan larangan bagi orang yang memiliki tato, termasuk:
Baca juga: Ternyata Begini Rasanya Kuliah di SNU, Kampus Terbaik di Korea
- Pemandian air panas (onsen)
- Pusat kebugaran dan gym
- Kolam renang umum
Hal ini bisa menjadi masalah bagi pekerja asing yang ingin beradaptasi dengan budaya Jepang atau menikmati fasilitas umum selama tinggal di sana.
Apakah Ada Solusi Jika Sudah Memiliki Tato?
Bagi mereka yang sudah memiliki tato tetapi ingin bekerja di Jepang melalui Tokutei Ginou, ada beberapa solusi yang mungkin bisa dipertimbangkan:
1. Menutupi Tato dengan Pakaian atau Plester Khusus
Jika tato berada di bagian tubuh yang bisa ditutupi dengan pakaian kerja (seperti lengan atau punggung), maka kemungkinan besar tidak akan menjadi masalah besar.
Beberapa pekerja juga menggunakan plester khusus untuk menutupi tato selama bekerja.
2. Memilih Industri yang Lebih Toleran terhadap Tato
Meskipun sebagian besar sektor kerja di Jepang memiliki kebijakan ketat terhadap tato, ada beberapa industri yang lebih fleksibel, seperti:
- Industri kreatif (desain grafis, seni, musik, dll.)
- Restoran atau bar yang lebih modern dan internasional
- Perusahaan startup dengan budaya kerja yang lebih terbuka
Namun, tetap penting untuk mencari tahu kebijakan masing-masing perusahaan sebelum melamar pekerjaan.
3. Menghapus Tato dengan Laser
Jika seseorang benar-benar ingin bekerja di Jepang dalam jangka panjang, menghapus tato dengan prosedur medis bisa menjadi pilihan.
Meskipun biaya dan prosesnya tidak mudah, ini bisa menjadi investasi bagi mereka yang ingin mendapatkan pekerjaan tanpa hambatan.
Sikap Perusahaan Jepang Terhadap Karyawan Bertato
Meskipun stigma terhadap tato masih kuat, sikap perusahaan Jepang terhadap karyawan bertato dapat bervariasi tergantung pada jenis industri dan kebijakan internal mereka.
Beberapa perusahaan dengan lingkungan kerja internasional atau startup yang lebih modern mungkin lebih fleksibel dalam menerima karyawan bertato, terutama jika tato tersebut tidak terlihat saat bekerja.
Namun, perusahaan yang bergerak di sektor tradisional seperti perbankan, pendidikan, dan pemerintahan umumnya memiliki aturan ketat mengenai penampilan karyawan.
Secara historis, tato di Jepang sering dikaitkan dengan kelompok yakuza atau organisasi kejahatan, sehingga muncul pandangan sosial bahwa orang bertato dianggap “menyimpang” dari norma masyarakat. Walaupun persepsi ini mulai berubah di kalangan generasi muda, banyak perusahaan masih berhati-hati dalam menilai calon karyawan yang memiliki tato. Dalam konteks bisnis Jepang yang sangat menjunjung keseragaman dan profesionalisme, penampilan visual sering kali menjadi cerminan dari etika kerja dan kesopanan seseorang.
Pada perusahaan internasional yang beroperasi di Jepang, seperti perusahaan teknologi global atau sektor kreatif, aturan mengenai tato jauh lebih longgar. Mereka menilai kemampuan dan kinerja lebih penting dibandingkan penampilan fisik. Banyak ekspatriat maupun profesional muda Jepang yang bekerja di startup dengan budaya kerja inklusif melaporkan bahwa tato tidak lagi menjadi penghalang karier, asalkan tidak menimbulkan distraksi dalam interaksi profesional.
Di sisi lain, bagi perusahaan tradisional Jepang, terutama yang berhubungan langsung dengan klien atau masyarakat luas seperti perbankan, lembaga pendidikan, maupun pemerintahan, tato masih dianggap tabu. Karyawan di sektor ini biasanya diwajibkan menutupi tato mereka dengan pakaian formal atau plester kulit saat berada di tempat kerja. Bahkan beberapa perusahaan besar memiliki peraturan tertulis yang melarang karyawan menampilkan tato sama sekali, dengan alasan menjaga citra perusahaan di mata publik.
Perubahan sikap terhadap tato sebenarnya mulai terlihat sejak beberapa tahun terakhir. Semakin banyak masyarakat Jepang yang menganggap tato sebagai bentuk ekspresi diri dan seni, bukan sekadar simbol pemberontakan. Festival, seniman tato, hingga influencer media sosial berperan dalam mengubah persepsi publik tersebut. Namun, perubahan sosial ini belum sepenuhnya tercermin dalam dunia korporasi Jepang yang dikenal konservatif dan lambat beradaptasi terhadap norma baru.
Bagi pekerja asing atau warga Jepang yang memiliki tato dan ingin berkarier di Jepang, ada beberapa tips yang bisa diterapkan:
- Pilih industri yang lebih terbuka, seperti teknologi, desain, seni, atau hospitality internasional yang cenderung lebih menerima keragaman penampilan.
- Pastikan tato tidak terlalu terlihat saat wawancara kerja atau di tempat kerja, terutama pada posisi yang berhubungan dengan pelanggan atau publik.
- Tunjukkan profesionalisme melalui sikap, kemampuan, dan hasil kerja, agar tato tidak menjadi fokus utama dalam penilaian.
- Pahami budaya perusahaan sebelum melamar pekerjaan, termasuk kebijakan internal terkait penampilan dan kebersihan.
Menariknya, beberapa perusahaan Jepang kini mulai menerapkan kebijakan yang lebih inklusif. Beberapa hotel, restoran, dan pusat kebugaran yang dulunya melarang pengunjung bertato kini memperbolehkan akses, terutama jika tato berukuran kecil atau ditutupi dengan stiker. Hal ini menunjukkan adanya perubahan bertahap dalam pandangan masyarakat Jepang terhadap tato di ruang publik dan profesional.
Pada akhirnya, sikap perusahaan Jepang terhadap karyawan bertato merupakan cerminan dari nilai-nilai budaya mereka yang menekankan kesopanan, keharmonisan, dan citra profesional. Walaupun masih ada batasan di beberapa sektor, tren globalisasi dan keberagaman tenaga kerja membuat banyak perusahaan mulai membuka diri terhadap perbedaan. Seiring waktu, diharapkan masyarakat Jepang dapat semakin menerima tato sebagai bentuk identitas personal, bukan sebagai tanda negatif.
Jika Anda tertarik bekerja di Jepang dan memiliki tato, jangan khawatir berlebihan. Yang paling penting adalah memahami konteks budaya dan menunjukkan sikap profesional dalam setiap kesempatan. Dengan pendekatan yang tepat, tato bukan lagi penghalang, melainkan bagian dari keunikan diri Anda yang bisa diterima di lingkungan kerja Jepang yang semakin modern.
Baca juga: Perbedaan Sistem Pendidikan antara Korea Selatan dan Indonesia
Oleh karena itu, sebelum melamar pekerjaan di Jepang, sangat penting untuk memahami budaya perusahaan dan mencari tahu apakah mereka memiliki kebijakan khusus terkait tato.
Ingin Belajar Bahasa Jepang dan Lolos Tes JLPT?
Memiliki tato memang bisa menjadi hambatan besar bagi mereka yang ingin mendaftar Tokutei Ginou dan bekerja di Jepang.
Hal ini disebabkan oleh stigma yang masih kuat, terutama karena kaitannya dengan kelompok kriminal seperti Yakuza.
Selain itu, tato juga dianggap tidak profesional dan bisa menimbulkan ketidaknyamanan di lingkungan kerja Jepang yang konservatif.
Bagi mereka yang sudah memiliki tato, ada beberapa solusi yang bisa dipertimbangkan, seperti menutupinya dengan pakaian, memilih industri yang lebih terbuka terhadap tato, atau bahkan menghapusnya secara permanen.
Namun, jika ingin meningkatkan peluang bekerja di Jepang, ada baiknya memahami dan menghormati budaya serta norma yang berlaku di negara tersebut.
Jika kamu tertarik untuk bekerja di Jepang melalui program Tokutei Ginou, salah satu syarat utama yang harus dipenuhi adalah kemampuan bahasa Jepang, terutama dengan lulus tes JLPT (Japanese Language Proficiency Test).
Untuk membantu kamu mempersiapkan diri, Ultimate Education menyediakan kursus bahasa Jepang serta pelatihan intensif untuk menghadapi JLPT.
Dengan pengajar berpengalaman dan metode pembelajaran yang efektif, kamu bisa meningkatkan keterampilan bahasa Jepang dengan cepat dan lebih percaya diri menghadapi ujian.
Jangan biarkan hambatan bahasa menghalangi impianmu bekerja di Jepang! Daftar sekarang di Ultimate Education, tempat terbaik untuk belajar bahasa asing dan persiapan tes JLPT.
