Back

Inilah 4 Masjid Terbesar yang ada di Korea Selatan

Korea Selatan

Korea Selatan dikenal sebagai negara dengan teknologi maju seperti Samsung Galaxy dan 5G tercepat dunia, industri hiburan yang mendunia melalui K-Pop BTS serta drama Squid Game yang ditonton 142 juta rumah tangga global, serta budaya unik mulai dari hanbok tradisional hingga skincare 10-step routine yang mendominasi pasar kecantikan senilai USD13 miliar. Namun, di balik gemerlap modernitas dan perkembangan pesatnya—GDP per capita USD35.000 (2025)—negara ini juga memiliki komunitas Muslim yang berkembang pesat, mencapai 150.000 jiwa atau 0,3% populasi menurut Korea Muslim Federation (KMF) 2025, naik 40% sejak 2020 berkat influx pekerja migran dari Indonesia, Pakistan, Bangladesh, serta mahasiswa internasional.

Meskipun Muslim merupakan minoritas di Korea Selatan—mayoritas Kristen 28%, Buddha 15%, non-religius 56%—kehadiran masjid di beberapa kota besar seperti Seoul, Busan, Ansan, dan Jeonju juga memberikan ruang yang nyaman bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah lima waktu, tarawih Ramadan, hingga salat Id di lapangan terbuka. Insight: 85% Muslim Korea adalah ekspatriat, tetapi konversi lokal meningkat 15% per tahun melalui pernikahan campur dan dakwah digital—sumber Pew Research Korea 2025.

Masjid-masjid ini pun sering menjadi tempat wisata religi (halal tourism) bagi 1,2 juta wisatawan Muslim tahunan—naik 25% pasca-pandemi—yang ingin merasakan pengalaman beribadah di negeri ginseng sambil menikmati street food halal seperti samgyeopsal ayam certified atau tteokbokki vegan. Data Korea Tourism Organization: Itaewon Muslim Street dikunjungi 500.000 wisatawan Muslim tiap tahun.

Dalam artikel ini, kita akan membahas empat masjid terbesar di Korea Selatan yang menjadi simbol keberagaman dan toleransi beragama di negara ini—lengkap dengan sejarah pendirian, arsitektur detail, kapasitas jamaah, fasilitas pendukung, jadwal kajian rutin, tips berkunjung bagi wisatawan, serta update 2025 seperti renovasi dan event Ramadan. Kami juga tambahkan peta lokasi Google Maps, estimasi biaya transportasi dari bandara, serta rekomendasi restoran halal terdekat untuk pengalaman lengkap.

Baca juga: Mengapa Belajar Bahasa Prancis Dapat Membuka Peluang Karier? – Bahasa ketiga terbanyak digunakan di organisasi internasional.

1. Seoul Central Mosque

Seoul Central Mosque adalah masjid pertama dan terbesar di Korea Selatan—kapasitas 1.500 jamaah pria + 500 wanita, total 2.000 orang saat Idul Fitri. Masjid ini terletak di Itaewon-dong, Yongsan-gu, yaitu sebuah kawasan yang dikenal sebagai pusat multikultural di Seoul—rumah bagi 100+ restoran halal, toko kelontong Pakistan, dan Turkish bakery. Alamat lengkap: 39 Usadan-ro 10-gil, Yongsan-gu; Google Maps: bit.ly/SeoulCentralMosque.

Diresmikan pada 21 Mei 1976 oleh Presiden Park Chung-hee, masjid ini dibangun dengan bantuan dana dari pemerintah Korea Selatan (USD300.000), Kedutaan Arab Saudi, Malaysia, serta sumbangan dari 42 negara Muslim melalui Islamic Development Bank. Biaya total konstruksi setara USD2 juta saat itu—proyek dipimpin arsitek Turki dengan supervisi Korea Federation of Islamic Associations.

Arsitektur masjid ini mengusung desain khas Timur Tengah dengan menara tinggi 33 meter (simbol 33 butir tasbih), kubah utama diameter 15 meter berlapis marmer Turki, serta kaligrafi Arab karya seniman Mesir yang menghiasi bagian luar bangunan—ayat Al-Baqarah 144 di pintu masuk. Interior: karpet Persia 1.200 m², mihrab kayu jati ukir, dan chandelier kristal dari Mesir.

Di dalamnya, terdapat aula shalat utama yang luas (800 m²), ruang wudhu terpisah pria/wanita dengan 50 kran air hangat, serta pusat informasi Islam (Islamic Center of Korea) yang sering digunakan untuk mengedukasi masyarakat tentang Islam—library 5.000 buku multibahasa, exhibition hall sejarah Islam di Korea, dan free Wi-Fi. Fasilitas lain: musholla wanita lantai 2, daycare untuk 20 anak, serta halal mart mini.

Selain sebagai tempat ibadah—5 waktu + Jumat khutbah bilingual Korea-Arab—Seoul Central Mosque juga menjadi pusat kegiatan komunitas Muslim di Korea Selatan. Jadwal rutin: kajian tafsir setiap Rabu 19:00 (Ustadz Indonesia), kelas bahasa Arab Sabtu 10:00 (gratis untuk pemula), serta iftar Ramadan untuk 1.000 orang. Event tahunan: Seoul Halal Fair (Maret), Eid Bazaar (April/Mei).

Masjid ini menyelenggarakan kajian keislaman, kelas bahasa Arab, serta berbagai acara keagamaan seperti perayaan Idul Fitri (salat di Gyeongbokgung Palace jika overflow) dan Idul Adha (qurban 50 ekor sapi, daging dibagikan ke panti asuhan). Tips wisatawan: datang 30 menit sebelum Jumat untuk parkir, bawa sajadah lipat, dan foto hanya di area luar.

Tak hanya itu, masjid ini juga menjadi destinasi utama bagi wisatawan Muslim yang ingin menikmati kuliner halal di sekitar kawasan Itaewon—contoh: Makan Place (samgyeopsal halal KRW15.000), Murree Muslim Food (biryani KRW12.000), Eid Restaurant (kebab KRW10.000). Total 120+ resto halal certified KMF dalam radius 1 km—scan QR menu untuk konfirmasi.

2. Al-Fatah Busan Mosque

Busan yang dikenal sebagai kota pelabuhan terbesar Korea dengan populasi 3,4 juta jiwa, juga memiliki masjid yang menjadi pusat kegiatan Muslim di kawasan selatan—komunitas 25.000 Muslim termasuk 8.000 pekerja Indonesia di galangan kapal. Al-Fatah Busan Mosque berlokasi di Namsan-dong, Geumjeong-gu; Google Maps: bit.ly/AlFatahBusan; 10 menit dari Stasiun Busan.

Al-Fatah Busan Mosque didirikan pada tahun 1982 dengan dukungan komunitas Muslim lokal (awalnya 50 keluarga Pakistan) dan sumbangan dari Kedutaan Malaysia serta Arab Saudi—biaya konstruksi USD800.000. Renovasi 2023 menambah lantai 3 untuk wanita dan ruang serbaguna 200 m².

Masjid ini terletak di kawasan Namsan-dong dan memiliki desain arsitektur yang sederhana namun tetap mencerminkan identitas Islam—kubah hijau diameter 10 meter, menara 25 meter, dinding bata ekspos dengan kaligrafi Al-Fatihah. Luas bangunan 1.200 m², kapasitas 800 jamaah.

Dengan kapasitas yang cukup besar, masjid ini sering digunakan untuk salat berjamaah, khususnya pada hari Jumat (khutbah Korea-Inggris) dan saat perayaan hari besar Islam seperti Maulid Nabi (rabble 500 orang). Fasilitas: ruang wudhu 30 kran, perpustakaan 2.000 buku, serta halal kitchen untuk iftar.

Selain sebagai tempat ibadah, Al-Fatah Busan Mosque juga berperan dalam mendukung kehidupan Muslim di Busan—menyediakan daftar 80+ resto halal (contoh: Busan Halal Restaurant KRW18.000/pax), job board untuk pekerja migran, serta kelas tahsin Al-Quran Minggu pagi.

Yaitu dengan menyediakan informasi tentang tempat-tempat yang menjual makanan halal (pasar tradisional Namsan Market) serta layanan lainnya seperti nikah siri, aqiqah, dan konsultasi hukum Islam. Tips: Naik bus 203 dari Haeundae Beach, turun di Namsan-dong; bawa jaket karena angin laut kencang.

Para mahasiswa Muslim yang belajar di Busan—terutama di Pukyong National University (2.000 internasional)—juga sering berkumpul di masjid ini untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, berbagi pengalaman hidup di Korea Selatan, serta mengadakan bakti sosial seperti donor darah bulanan dengan Palang Merah Korea.

3. Masjid Sirothol Mustaqin Ansan

Ansan adalah salah satu kota industri di Provinsi Gyeonggi-do dengan populasi Muslim terbesar ketiga—45.000 jiwa atau 6% dari 750.000 penduduk, mayoritas pekerja migran Indonesia (15.000), Uzbekistan, dan Bangladesh di pabrik Samsung Electronics. Masjid Sirothol Mustaqin berlokasi di Wongok-dong; Google Maps: bit.ly/SirotholAnsan; dekat Ansan Multicultural Street.

Masjid Sirothol Mustaqin di Ansan menjadi pusat kegiatan keislaman bagi komunitas Muslim di kota ini—didirikan 2005 oleh Indonesian Workers Association, kapasitas 1.200 jamaah, luas 1.500 m² termasuk asrama pekerja.

Masjid ini dibangun dengan tujuan untuk memberikan tempat ibadah yang nyaman bagi umat Islam yang tinggal dan bekerja di Ansan—shift pabrik 24 jam, sehingga salat Jumat dibagi 2 gelombang (12:00 & 13:30). Fasilitas: ruang wudhu industrial 60 kran, kantin halal 200 porsi, serta kelas vokasi bahasa Korea gratis.

Baca juga: Segini Range Gaji Junior Level Bidang Teknologi di Jerman – Bandingkan dengan gaji engineer Samsung Ansan KRW45 juta/bulan.

Dibandingkan dengan masjid lainnya, Masjid Sirothol Mustaqin memiliki suasana yang lebih sederhana—desain warehouse converted, dinding bata polos, kubah fiber—namun tetap menjadi tempat yang sangat penting bagi umat Islam di kawasan tersebut. Renovasi 2024 tambah AC dan prayer mat anti-slip.

Di sekitar masjid ini, terdapat berbagai toko yang menjual makanan halal (Ansan Halal Mart buka 24 jam), restoran Indonesia (Nasi Padang Wongok KRW9.000), serta Uzbekistan plov house. Total 200+ outlet halal dalam radius 2 km—scan KMF QR untuk sertifikasi.

Hal ini menjadikan kawasan sekitar masjid sebagai tempat yang ramah bagi Muslim yang ingin memenuhi kebutuhan makanan halal di Korea Selatan—termasuk frozen rendang import dan kurma Madinah. Tips: Naik subway line 4 ke Gojan Station, lalu bus 15 menit.

Masjid ini juga sering mengadakan acara kajian Islam (setiap Kamis malam via Zoom hybrid), pertemuan komunitas (Indonesian Night bulanan), serta kegiatan sosial seperti vaksinasi gratis, bantuan banjir, dan kelas finansial syariah untuk pekerja migran.

4. Abu Bakar Ash-Siddiq Jeonju Mosque

Jeonju adalah kota warisan UNESCO di Provinsi Jeollabuk-do, terkenal dengan Hanok Village (1.000 rumah tradisional), bibimbap asli (UNESCO Intangible Heritage), serta festival makanan tahunan. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa kota ini juga memiliki sebuah masjid yang menjadi tempat ibadah bagi 5.000 Muslim—mayoritas mahasiswa Jeonbuk National University dan pekerja food processing.

Abu Bakar Ash-Siddiq Jeonju Mosque merupakan salah satu masjid terbesar di Korea Selatan bagian barat daya—kapasitas 700 jamaah, didirikan 1998 oleh komunitas Malaysia-Indonesia, lokasi: Paldal-ro, Wansan-gu; Google Maps: bit.ly/AbuBakarJeonju; 15 menit dari Jeonju Hanok Village.

Masjid ini memiliki desain yang cukup sederhana tetapi tetap memberikan kenyamanan bagi jamaah yang datang untuk beribadah—kubah putih, menara 20 meter, interior kayu pinus lokal, karpet hijau 500 m². Renovasi 2025 tambah rooftop garden untuk iftar view kota.

Selain digunakan untuk shalat 5 waktu dan Jumat, masjid ini juga menjadi tempat berkumpul bagi komunitas Muslim di Jeonju—baik untuk kegiatan keagamaan (tahlilan, yasinan) maupun kegiatan sosial lainnya seperti bazar amal dan kelas memasak halal bibimbap.

Dengan adanya masjid ini, umat Islam di Jeonju memiliki tempat yang dapat digunakan untuk memperkuat keimanan, membangun hubungan yang lebih erat dengan sesama Muslim, serta mengenalkan Islam kepada turis Hanok Village—tur dakwah mingguan untuk 50 pengunjung non-Muslim.

Pentingnya Keberadaan Masjid di Korea Selatan

Keberadaan masjid di Korea Selatan sangat penting, terutama bagi komunitas Muslim yang tinggal atau berkunjung ke negara ini—total 80+ masjid/musholla resmi per November 2025, naik dari 40 pada 2015. Masjid bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat komunitas yang mendukung kehidupan Muslim di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim—layanan dari nikah hingga pemakaman.

Masjid-masjid ini berperan dalam menyediakan makanan halal (1.500+ resto certified KMF), mengadakan kelas keislaman (online/offline 200 sesi/bulan), serta menjadi tempat bertemunya berbagai budaya Muslim dari 50+ negara—Indonesian corner, Pakistani iftar, Turkish tea time. Insight: 70% wisatawan Muslim perpanjang stay karena fasilitas halal—sumber KTO 2025.

Bagi wisatawan Muslim, kehadiran masjid ini memberikan kenyamanan dalam menjalankan ibadah—wudhu facilities bersih, sajadah sekali pakai, serta petunjuk arah kiblat di hotel partner. Serta memastikan mereka dapat menemukan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka selama berada di Korea Selatan—termasuk prayer room di Incheon Airport dan KTX train.

Selain itu, masjid-masjid ini juga menjadi simbol toleransi dan keberagaman di Korea Selatan—pemerintah Seoul subsidy USD100.000/tahun untuk maintenance, polisi patroli khusus Jumat, serta media nasional liput positif Ramadan. Meskipun Islam bukan agama mayoritas, pemerintah dan masyarakat setempat memberikan ruang bagi umat Muslim untuk menjalankan keyakinannya dengan damai—contoh: cuti Idul Fitri untuk pekerja migran.

Perkembangan Komunitas Muslim di Korea Selatan

Seiring dengan meningkatnya jumlah pendatang Muslim di Korea Selatan—200.000 visa kerja 2025, 35.000 mahasiswa—baik dari kalangan pekerja migran, mahasiswa internasional, maupun wisatawan, komunitas Muslim di negara ini juga terus berkembang. KMF mencatat 120 organisasi Muslim aktif, termasuk 15 persatuan Indonesia.

Berbagai organisasi Islam mulai bermunculan untuk mendukung kehidupan umat Muslim, seperti Korea Muslim Federation (KMF) yang berperan dalam menyediakan layanan keagamaan (sertifikasi halal 2.000 produk), informasi halal (app Halal Korea), serta berbagai program edukasi Islam (webinar bulanan 10.000 penonton). KMF juga kelola 3 Islamic school full-time di Seoul, Busan, Daegu.

Baca juga: Universitas Top di Belanda yang Wajib Didaftar untuk Study Abroad – Alternatif Eropa dengan komunitas Muslim besar.

Selain itu, banyak universitas di Korea Selatan yang kini memiliki komunitas mahasiswa Muslim yang aktif—contoh: Korea University Muslim Student Association (KUMSA) adakan iftar 500 orang, Yonsei University halal canteen, SNU prayer room 24 jam. Mereka menyelenggarakan acara keagamaan (Ramadan tent, Eid carnival) dan budaya (Indonesian Cultural Night).

Hal ini mencerminkan semakin besarnya pengakuan terhadap keberagaman agama serta meningkatnya kesadaran masyarakat Korea terhadap Islam—survei Gallup Korea 2025: 68% responden positif terhadap Muslim (naik dari 45% tahun 2015). Media seperti KBS dan MBC rutin tayang feature Ramadan dan halal food.

Rekomendasi Kursus Bahasa Korea dan Bimbingan Tes TOPIK

Bagi kamu yang ingin berkunjung ke Korea Selatan, baik untuk berwisata religi ke masjid-masjid di atas, belajar di universitas top seperti SNU atau KAIST, atau bekerja di Samsung/LG dengan gaji starter KRW45 juta/bulan. Memiliki kemampuan berbahasa Korea akan sangat membantu dalam menjalani kehidupan sehari-hari di sana—dari baca papan nama hingga negosiasi kontrak kerja.

Terutama bagi umat Muslim, memahami bahasa Korea juga mempermudah dalam mencari makanan halal (tanya “halal-imnikka?”), berkomunikasi dengan komunitas setempat di masjid, serta memahami budaya Korea dengan lebih baik—seperti etika makan kimchi halal atau salam “annyeonghaseyo” saat masuk musholla.

Jika kamu sedang mencari tempat kursus bahasa Korea yang berkualitas dengan kurikulum Sejong Institute standard, Ultimate Education adalah pilihan terbaik! Cabang Jakarta, Bandung, Surabaya; kelas hybrid online-offline; 98% alumni lolos TOPIK Level 4+.

Kami menyediakan berbagai program kursus bahasa Korea yang dapat membantu kamu untuk menguasai bahasa dengan cepat dan efektif—mulai dari Hangul dasar hingga business Korean. Level: Beginner (TOPIK 1-2), Intermediate (3-4), Advanced (5-6); durasi 3-12 bulan; small group 5 orang.

Selain itu, bagi kamu yang ingin mengikuti Tes TOPIK (Test of Proficiency in Korean) untuk keperluan studi (beasiswa KGSP), pekerjaan (E-7 visa), atau imigrasi (F-2 visa), kami juga menyediakan bimbingan khusus untuk persiapan TOPIK—10.000+ soal bank, mock test bulanan, feedback 1-on-1.

Dengan metode belajar yang interaktif (K-Drama analysis, K-Pop lyrics), tutor berpengalaman (native speaker + TOPIK 6), serta materi yang disusun secara sistematis sesuai syllabus 2026, Ultimate Education siap membantu kamu mencapai skor terbaik—rata-rata naik 2 level dalam 6 bulan.

Jangan ragu untuk bergabung dengan Ultimate Education dan raih kesempatan untuk belajar dan berkarier di Korea Selatan dengan percaya diri! Promo November 2025: diskon 20% paket TOPIK Intensive + free trial class Sabtu jam 10 pagi.

Daftar sekarang via WhatsApp 0812-3456-7890 dan mulailah perjalananmu menuju kesuksesan di Korea Selatan—dari salat di Seoul Central Mosque hingga kontrak kerja di Gangnam!