
Kalau kamu lagi kepikiran buat kuliah ke luar negeri, daftar beasiswa, melamar kerja di perusahaan internasional, atau sekadar pengin buktiin kemampuan bahasa Inggris, satu hal ini hampir pasti muncul di kepala: mending IELTS atau TOEFL?
Sekilas, dua tes ini kelihatannya mirip. Sama-sama tes bahasa Inggris, sama-sama diakui secara internasional, dan sama-sama bikin deg-degan. Tapi sebenarnya, perbedaan IELTS dan TOEFL itu cukup banyak, mulai dari format tes, sistem penilaian, sampai tujuan penggunaannya. Memahami perbedaan ini bisa membantu kamu menghemat waktu, biaya, dan usaha, karena memilih tes yang salah bisa berarti persiapan ulang dari nol. Bayangkan saja, setelah berbulan-bulan belajar, ternyata universitas impianmu hanya menerima salah satu dari keduanya. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas secara mendalam agar kamu bisa membuat keputusan yang tepat.
Masalahnya, masih banyak orang yang asal pilih tes tanpa benar-benar paham bedanya TOEFL dan IELTS. Akhirnya? Sudah capek belajar, keluar biaya, tapi hasilnya nggak kepakai maksimal. Nah, biar kamu nggak jatuh ke jebakan yang sama, yuk bahas perbedaan IELTS dan TOEFL secara lengkap, santai, dan nggak ribet. Kita akan mulai dari dasar, membahas setiap aspek dengan contoh nyata, tips persiapan, dan insight dari para peserta tes sebelumnya, sehingga kamu bisa merasakan seperti apa pengalaman sebenarnya.
Baca juga: Mau Kerja di Jerman? Siap-Siap Kaget, Ini Budaya yang Wajib untuk Kamu Ketahui
Kenalan Dulu Sama IELTS dan TOEFL
Sebelum masuk ke perbandingan detail, kita kenalan singkat dulu sama dua “raksasa” tes bahasa Inggris ini. Mengetahui sejarah dan pengembangnya bisa memberikan konteks mengapa ada perbedaan mendasar di antara keduanya.
IELTS adalah singkatan dari International English Language Testing System. Tes ini dikembangkan oleh British Council, IDP, dan Cambridge. IELTS banyak digunakan untuk kebutuhan akademik, kerja, dan imigrasi, terutama ke negara seperti Inggris, Australia, dan Selandia Baru. Sejak diluncurkan pada tahun 1989, IELTS telah menjadi standar emas untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris dalam konteks internasional yang lebih luas, termasuk variasi bahasa Inggris yang digunakan di berbagai negara Persemakmuran. Ini membuat IELTS lebih fleksibel untuk tujuan migrasi, di mana kemampuan beradaptasi dengan berbagai aksen dan gaya bahasa menjadi penting.
Sementara itu, TOEFL atau Test of English as a Foreign Language dikembangkan oleh ETS (Educational Testing Service) dari Amerika Serikat. TOEFL sering jadi syarat utama masuk universitas di Amerika, tapi juga diakui di banyak negara lain. TOEFL pertama kali diperkenalkan pada tahun 1964 dan telah berevolusi menjadi format iBT (internet-based test) yang lebih modern. Fokusnya lebih pada bahasa Inggris akademik Amerika, yang membuatnya ideal untuk lingkungan pendidikan tinggi di AS, di mana mahasiswa asing perlu memahami kuliah, diskusi kelas, dan tugas kampus sehari-hari.
Dari sini aja sudah kelihatan, perbedaan IELTS dan TOEFL bukan cuma soal nama, tapi juga latar belakang dan target penggunanya. Misalnya, jika kamu berencana kuliah di universitas seperti Oxford atau University of Melbourne, IELTS mungkin lebih disukai, sementara Harvard atau Stanford cenderung menerima TOEFL dengan lebih mudah. Insight dari para alumni sering menunjukkan bahwa memilih tes sesuai dengan negara tujuan bisa meningkatkan peluang diterima, karena institusi tersebut lebih familiar dengan sistem penilaian tes tersebut.
Perbedaan IELTS dan TOEFL dari Tujuan Penggunaan
Salah satu hal paling penting yang harus kamu pahami sebelum memilih tes adalah: tes ini mau dipakai buat apa? Karena tujuan penggunaan yang berbeda bisa mempengaruhi pilihanmu secara signifikan, terutama dalam hal persyaratan skor minimum dan validitas hasil tes.
IELTS biasanya dipakai untuk:
- Kuliah atau beasiswa ke UK, Australia, New Zealand, dan Eropa
- Keperluan imigrasi dan visa
- Kerja di institusi internasional
Contohnya, untuk visa kerja di Australia, IELTS sering menjadi syarat wajib dengan skor minimal 6.0 di setiap band. Ini karena tes ini dirancang untuk mengukur kemampuan bahasa dalam konteks kehidupan sehari-hari dan profesional, bukan hanya akademik. Tips: Jika tujuanmu imigrasi, periksa situs resmi pemerintah negara tujuan untuk konfirmasi tes yang diterima, karena kadang ada variasi seperti IELTS General Training vs Academic.
TOEFL lebih sering digunakan untuk:
- Kuliah atau beasiswa ke Amerika Serikat
- Kebutuhan akademik di kampus internasional
- Persyaratan kerja tertentu
Misalnya, beasiswa Fulbright sering mensyaratkan TOEFL dengan skor di atas 80 untuk program master. TOEFL juga populer di Asia, seperti di Jepang atau Korea Selatan, untuk program pertukaran mahasiswa. Insight: Banyak perusahaan multinasional seperti Google atau Microsoft menerima keduanya, tapi jika posisi melibatkan kolaborasi dengan tim di AS, TOEFL bisa memberikan keunggulan karena aksennya yang lebih familiar.
Walaupun sekarang banyak universitas yang menerima keduanya, tetap ada institusi yang lebih prefer salah satu tes. Jadi, memahami bedanya TOEFL dan IELTS dari segi tujuan itu krusial banget. Saran praktis: Buat daftar universitas atau pekerjaan targetmu, lalu cek persyaratan mereka di situs resmi. Ini bisa menghindari kekecewaan di kemudian hari dan membuat persiapanmu lebih terfokus.
Format Tes: Ini yang Paling Kerasa Bedanya
Kalau ngomongin perbedaan IELTS dan TOEFL, format tes adalah poin yang paling langsung kerasa saat ujian. Format ini tidak hanya mempengaruhi cara kamu belajar, tapi juga strategi waktu dan manajemen stres selama tes berlangsung.
IELTS punya empat skill utama:
- Listening
- Reading
- Writing
- Speaking
Setiap bagian dirancang untuk menguji kemampuanmu dalam situasi nyata, seperti mendengarkan percakapan sehari-hari atau membaca artikel berita. Durasi total sekitar 2 jam 45 menit, dengan speaking yang bisa dijadwalkan terpisah, memberikan fleksibilitas bagi peserta yang mudah lelah.
TOEFL juga menguji empat skill yang sama:
- Reading
- Listening
- Speaking
- Writing
Namun, TOEFL iBT dilakukan sepenuhnya secara online, dengan integrasi antar skill, seperti membaca teks lalu mendengarkan kuliah terkait. Ini mencerminkan lingkungan akademik di mana kamu harus menggabungkan informasi dari berbagai sumber.
Kelihatannya sama, tapi cara ujiannya beda jauh. Misalnya, IELTS lebih menekankan pada kemampuan adaptasi, sementara TOEFL fokus pada efisiensi digital. Tips: Coba latihan tes simulasi untuk keduanya agar kamu bisa merasakan perbedaan ini secara langsung dan memutuskan mana yang lebih sesuai dengan gaya belajarmu.
Perbedaan IELTS dan TOEFL pada Speaking Test
Nah, ini bagian yang paling sering bikin orang galau. Speaking test sering menjadi momok karena melibatkan ekspresi diri secara verbal, dan perbedaan format bisa mempengaruhi performa seseorang secara signifikan.
Di IELTS, speaking dilakukan secara langsung dengan examiner. Kamu bakal ngobrol tatap muka, jawab pertanyaan, dan diskusi singkat. Vibes-nya mirip interview santai tapi tetap serius. Durasi sekitar 11-14 menit, dibagi menjadi tiga bagian: pengenalan diri, monolog tentang topik tertentu, dan diskusi mendalam. Keuntungannya, examiner bisa memberikan isyarat nonverbal yang membantu alur percakapan.
Sedangkan di TOEFL, speaking dilakukan lewat komputer. Kamu dengar pertanyaan, lalu jawab dengan merekam suara. Tidak ada interaksi manusia secara langsung. Ada enam tugas, termasuk yang terintegrasi dengan reading dan listening, dengan waktu persiapan singkat 15-30 detik. Ini menguji kemampuanmu berbicara spontan tanpa umpan balik langsung.
Buat kamu yang:
- Suka ngobrol langsung dan pede komunikasi → IELTS cocok
- Lebih nyaman ngomong ke layar tanpa tatapan orang → TOEFL bisa jadi pilihan
Di sinilah bedanya TOEFL dan IELTS terasa sangat personal. Insight dari peserta: Banyak yang merasa IELTS lebih “manusiawi” karena ada interaksi, tapi TOEFL lebih adil karena dinilai oleh beberapa evaluator untuk menghindari bias. Tips persiapan: Rekam diri sendiri untuk TOEFL, dan latihan mock interview untuk IELTS agar terbiasa dengan tekanan.
Baca juga: 5 Hal Unik tentang Bahasa Jerman yang Bikin Kaget tapi Bikin Penasaran
Perbedaan Sistem Penilaian IELTS dan TOEFL
Kalau ngomongin nilai, perbedaan IELTS dan TOEFL juga cukup signifikan. Sistem penilaian ini tidak hanya mempengaruhi target skor yang harus kamu capai, tapi juga bagaimana hasil tesmu diinterpretasikan oleh institusi.
IELTS menggunakan skor dari 0 sampai 9. Skor biasanya muncul dalam bentuk band, misalnya 6.0, 6.5, 7.0, dan seterusnya. Setiap band mewakili tingkat kemahiran, seperti band 7 berarti “good user” dengan kemampuan operasional yang baik. Skor keseluruhan adalah rata-rata dari empat skill, dan institusi sering mensyaratkan skor minimum per band untuk menghindari kelemahan di satu area.
TOEFL iBT menggunakan skor 0 sampai 120, dengan pembagian:
- Reading: 0–30
- Listening: 0–30
- Speaking: 0–30
- Writing: 0–30
Skor ini lebih granular, memungkinkan perbandingan yang lebih detail. Misalnya, skor 100 sering menjadi benchmark untuk universitas top di AS. Penilaian dilakukan oleh AI dan manusia untuk speaking dan writing, memastikan objektivitas.
Karena sistem skornya beda, nilai IELTS dan TOEFL nggak bisa dibandingkan secara mentah. Skor 7.0 IELTS nggak otomatis setara dengan TOEFL tertentu tanpa tabel konversi resmi. Kamu bisa menemukan tabel konversi di situs ETS atau British Council, yang menunjukkan bahwa IELTS 7.0 kira-kira setara dengan TOEFL 94-101. Tips: Gunakan konverter resmi untuk memetakan target skormu, dan fokus pada kelemahan skill spesifik berdasarkan sistem penilaian tes yang dipilih.
Aksen Bahasa Inggris yang Digunakan
Ini sering diremehkan, padahal penting. Aksen bisa menjadi faktor penentu dalam bagian listening, di mana pemahaman yang salah bisa menurunkan skor secara drastis.
IELTS menggunakan beragam aksen, seperti British, Australian, dan kadang Canadian. Jadi kamu harus siap dengar variasi pengucapan. Ini mencerminkan penggunaan bahasa Inggris global, di mana kamu mungkin mendengar percakapan dari speaker non-native juga. Contoh: Kata “schedule” diucapkan “shed-yool” di British vs “sked-yool” di American.
TOEFL cenderung fokus ke aksen Amerika. Kalau kamu terbiasa nonton film Hollywood atau konten YouTube dari US, TOEFL bisa terasa lebih familiar. Listening di TOEFL sering melibatkan kuliah universitas dengan aksen North American yang standar, membuatnya lebih konsisten tapi kurang variatif.
Perbedaan aksen ini termasuk bagian dari bedanya TOEFL dan IELTS yang sering baru disadari pas latihan soal. Insight: Peserta dari Indonesia sering kesulitan dengan aksen Australian di IELTS karena kurang eksposur. Tips: Dengarkan podcast seperti BBC Learning English untuk IELTS, atau TED Talks untuk TOEFL, agar telingamu terbiasa. Mulai dari 15 menit sehari untuk membangun kebiasaan.
Perbedaan IELTS dan TOEFL pada Reading Section
Di IELTS Reading, kamu akan menemukan:
- Artikel panjang
- Banyak jenis soal seperti matching heading, true false not given, dan summary completion
Teksnya bisa dari majalah, buku, atau koran, dengan topik umum hingga akademik. Durasi 60 menit untuk 40 soal, tanpa waktu transfer jawaban, yang menuntut kecepatan dan akurasi tinggi.
Di TOEFL Reading:
- Teks akademik mirip buku kuliah
- Soal lebih ke pilihan ganda
Ada 3-4 passage dengan 10 soal masing-masing, durasi 54-72 menit. Soal melibatkan inferensi, vocabulary, dan struktur kalimat, mirip dengan bacaan kuliah.
Kalau kamu suka analisis detail dan cepat membaca konteks, IELTS cocok. Tapi kalau kamu nyaman dengan bacaan akademik dan pilihan ganda, TOEFL bisa lebih aman. Tips: Latih skimming dan scanning untuk keduanya, tapi fokus pada vocabulary akademik untuk TOEFL. Insight: Banyak yang merasa IELTS lebih tricky karena soal “not given” yang memerlukan pemahaman implisit.
Writing Test: Mana yang Lebih Menantang?
Di IELTS Writing:
- Task 1: Mendeskripsikan grafik, tabel, atau diagram
- Task 2: Esai argumentatif
Task 1 minimal 150 kata, Task 2 250 kata, dalam 60 menit. Penilaian berdasarkan coherence, lexical resource, grammatical range, dan task response.
Di TOEFL Writing:
- Integrated task: Gabungan reading dan listening
- Independent task: Esai opini
Integrated task 20 menit, independent 30 menit. Kamu harus merangkum poin dari sumber eksternal di integrated task.
Perbedaan ini bikin strategi belajarnya juga beda. IELTS lebih menuntut kemampuan analisis visual dan argumentasi tertulis, sedangkan TOEFL menuntut integrasi beberapa skill sekaligus. Insight: Peserta sering kesulitan dengan integrated task TOEFL karena harus cepat mencatat poin listening. Tips: Latih menulis esai harian, gunakan template struktur untuk keduanya, dan minta feedback dari tutor untuk meningkatkan skor.
Durasi Tes dan Tingkat Kelelahan
IELTS berlangsung sekitar 2 jam 45 menit, dan speaking bisa di hari yang sama atau berbeda. Ini memberikan jeda istirahat alami, terutama jika speaking dijadwalkan terpisah, yang bisa mengurangi kelelahan.
TOEFL iBT berlangsung sekitar 3 jam lebih, dan semuanya dilakukan dalam satu sesi. Ada istirahat 10 menit setelah listening, tapi keseluruhan tes memerlukan konsentrasi tinggi tanpa jeda panjang.
Buat sebagian orang, durasi panjang TOEFL bisa bikin stamina mental terkuras. Ini juga jadi pertimbangan penting saat membahas perbedaan IELTS dan TOEFL. Tips: Latih tes full-length di rumah untuk membangun endurance. Insight: Banyak peserta TOEFL melaporkan penurunan performa di bagian akhir karena kelelahan, jadi manajemen waktu krusial.
Baca juga: 4 Elemen Penting yang Bikin Essay LPDP Kamu Terasa Powerful dan Berkelas
Mana yang Lebih Sulit: IELTS atau TOEFL?
Jawaban jujurnya: tergantung orangnya. Kesulitan subjektif, tergantung pada background bahasa, gaya belajar, dan pengalaman sebelumnya.
IELTS terasa sulit buat yang:
- Nggak terbiasa nulis deskripsi grafik
- Kurang nyaman speaking tatap muka
Contoh: Jika kamu introvert, interaksi langsung bisa menambah stres.
TOEFL terasa sulit buat yang:
- Kurang fokus dalam durasi panjang
- Kesulitan multitasking listening dan writing
Misalnya, jika kamu lambat dalam mencatat, integrated task bisa jadi nightmare.
Makanya, memahami bedanya TOEFL dan IELTS itu bukan soal mana yang lebih susah, tapi mana yang lebih cocok sama gaya belajarmu. Tips: Ambil diagnostic test gratis online untuk keduanya, lalu bandingkan skor dan pengalamanmu. Insight: Statistik menunjukkan rata-rata skor IELTS sekitar 6.5, sementara TOEFL 82, tapi ini bervariasi per negara.
Biaya dan Masa Berlaku

Baik IELTS maupun TOEFL umumnya berlaku 2 tahun. Biayanya juga relatif mirip, walaupun bisa beda tergantung lokasi dan kebijakan terbaru. Di Indonesia, IELTS sekitar Rp 3-4 juta, TOEFL Rp 2.5-3 juta, tapi cek update karena inflasi dan kurs mata uang mempengaruhi.
Karena biaya nggak murah, penting banget untuk memilih tes yang tepat sejak awal, supaya hasilnya benar-benar kepakai. Insight: Beberapa institusi menawarkan voucher atau diskon untuk tes ulang jika skor tidak mencapai target. Tips: Rencanakan tes setidaknya 3-6 bulan sebelum deadline aplikasi, agar ada waktu retake jika diperlukan.
Jangan Asal Pilih!
Sekarang kamu sudah paham bahwa perbedaan IELTS dan TOEFL itu bukan sekadar nama, tapi mencakup format tes, sistem penilaian, gaya ujian, sampai tujuan penggunaannya. Dengan pemahaman ini, kamu bisa menghindari kesalahan umum seperti memilih tes berdasarkan popularitas saja.
Kalau kamu ingin hasil maksimal, jangan asal ikut tren atau ikut kata orang. Kenali kebutuhanmu, pahami bedanya TOEFL dan IELTS, lalu pilih tes yang paling sesuai dengan target akademik atau kariermu. Ingat, investasi waktu dan uangmu berharga, jadi buat keputusan berdasarkan fakta dan refleksi diri.
Siap Hadapi IELTS atau TOEFL dengan Persiapan Matang
Kalau kamu masih bingung harus mulai dari mana, atau pengin persiapan yang lebih terarah, Ultimate Education bisa jadi solusi yang tepat. Ultimate Education menyediakan kursus persiapan IELTS, TOEFL iBT, TOEFL iTP, serta jasa penerjemah profesional untuk kebutuhan akademik maupun profesional. Mereka juga menawarkan konsultasi gratis untuk menentukan tes mana yang cocok untukmu, berdasarkan profil dan tujuanmu.
Dengan pengajar berpengalaman, materi up-to-date, dan metode belajar yang fleksibel, Ultimate Education siap bantu kamu mencapai skor impian tanpa drama. Buat kamu yang pengin hasil serius dan persiapan maksimal, Ultimate Education layak jadi rekomendasi tempat kursus terbaik buat langkah internasionalmu. Banyak alumni mereka yang berhasil masuk universitas top dunia, berkat pendekatan personalisasi yang mereka terapkan.
