Back

Native Speaker Pasti Dapat Skor IELTS Tinggi? Ini Fakta yang Sering Disalahpahami

ielts native speaker

Banyak orang yang masih mikir satu hal ini: “Kalau native speaker bahasa Inggris, pasti gampang dapet skor IELTS tinggi.” Kedengarannya masuk akal, kan? Mereka lahir, tumbuh, dan hidup pakai bahasa Inggris setiap hari. Tapi… kenyataannya nggak sesimpel itu. Sebenarnya, ada banyak faktor yang mempengaruhi performa dalam tes IELTS, termasuk pemahaman mendalam tentang struktur tes itu sendiri, yang sering kali diabaikan oleh mereka yang sudah fasih berbahasa Inggris secara alami.

Bahkan, pengalaman menunjukkan bahwa kebiasaan sehari-hari dalam berbahasa tidak selalu selaras dengan tuntutan tes standar seperti IELTS, di mana presisi, struktur, dan strategi memainkan peran yang krusial. Ini adalah salah satu mitos umum di dunia persiapan IELTS yang perlu diluruskan agar calon peserta tes tidak salah langkah dalam mempersiapkan diri mereka. Faktanya, native speaker belum tentu otomatis dapat skor IELTS tinggi. Bahkan, ada banyak kasus native speaker yang skornya biasa saja, sementara non-native speaker justru bisa tembus band 8 atau bahkan 9.

Kok bisa? Ini karena IELTS bukan hanya menguji kefasihan dasar, tapi juga kemampuan untuk menerapkan bahasa dalam konteks yang spesifik dan terstruktur. Banyak native speaker yang terbiasa dengan bahasa sehari-hari lupa bahwa tes ini menuntut pendekatan yang lebih metodis dan strategis. Selain itu, faktor seperti tekanan waktu, pemahaman instruksi, dan kemampuan adaptasi terhadap variasi aksen dalam listening juga ikut berperan penting.

Studi kasus dari berbagai forum persiapan IELTS sering kali menyoroti bagaimana non-native speaker, melalui latihan yang disiplin mampu mengungguli native speaker yang kurang persiapan. Ini membuktikan bahwa kesuksesan di IELTS lebih bergantung pada persiapan daripada latar belakang bahasa alami.

Nah, di artikel ini kita bakal bahas tuntas dan jujur soal hubungan antara native speaker dan skor IELTS, biar kamu nggak lagi kejebak asumsi yang keliru. Kita akan jelajahi alasan-alasan mendalam, contoh nyata, dan tips praktis untuk meningkatkan peluang sukses di IELTS, baik kamu native atau non-native speaker.

Dengan pemahaman ini, diharapkan pembaca bisa lebih bijak dalam merencanakan strategi belajar mereka, menghindari jebakan overconfidence, dan fokus pada aspek-aspek yang benar-benar mempengaruhi skor akhir. Artikel ini juga akan menyertakan insight dari pengalaman nyata peserta tes, serta rekomendasi sumber daya untuk persiapan yang lebih efektif.

Baca juga: 15 Tips Mengerjakan IELTS Biar Skor Nggak Anjlok dan Tetap Stabil Sampai Finish

Apa Itu Native Speaker dan Kenapa Dianggap “Unggul”?

Native speaker adalah orang yang sejak kecil menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya mereka berasal dari negara seperti Inggris, Australia, Amerika Serikat, Kanada, atau Selandia Baru. Mereka terpapar bahasa ini melalui keluarga, sekolah, media, dan interaksi sosial sejak usia dini, yang membuat penguasaan mereka terasa intuitif dan alami.

Proses akuisisi bahasa ini sering kali tanpa usaha sadar, sehingga mereka memiliki pemahaman yang mendalam tentang nuansa, idiom, dan konteks budaya yang terkait dengan bahasa Inggris. Namun, ini juga bisa menjadi pedang bermata dua ketika menghadapi tes standar seperti IELTS, di mana pengetahuan implisit tidak selalu cukup.

Karena mereka terbiasa ngomong dan mikir pakai bahasa Inggris, sehingga banyak orang yang langsung nganggap kalau mereka punya “privilege” di tes IELTS. Padahal, IELTS bukan sekedar tes ngobrol santai, tapi tes akademik dengan standar penilaian yang ketat. Asumsi ini sering muncul karena kita melihat native speaker berkomunikasi dengan lancar dalam film atau percakapan sehari-hari, tapi IELTS menuntut lebih dari itu. Seperti kemampuan menganalisis teks yang kompleks, menyusun argumen logis, dan menggunakan kosakata spesifik yang relevan dengan topik akademik.

Selain itu, faktor psikologis seperti underestimation terhadap tes bisa membuat native speaker kurang mempersiapkan diri, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi performa mereka. Penting untuk diingat bahwa keunggulan ini lebih bersifat potensial daripada absolut, dan bisa diimbangi oleh non-native speaker melalui latihan yang terfokus. Di sinilah banyak orang yang mulai salah paham. Faktanya, keunggulan native speaker lebih ke arah intuisi bahasa daripada keterampilan tes khusus, yang bisa dipelajari oleh siapa saja dengan persiapan yang tepat.

Insight dari para ahli bahasa menunjukkan bahwa meskipun native speaker memiliki kelebihan dalam fluency alami, mereka sering kali kekurangan dalam aspek metalinguistik, yaitu kemampuan untuk secara sadar menganalisis dan memanipulasi struktur bahasa, yang sangat dibutuhkan dalam tes seperti IELTS. Oleh karena itu, pendekatan belajar yang holistik, mencakup latihan praktik maupun pemahaman teori, menjadi kunci sukses bagi semua peserta tes.

IELTS Bukan Tes Bahasa Sehari-hari

Hal paling penting yang harus kamu pahami adalah bahwa IELTS itu bukan tes kemampuan ngobrol biasa. IELTS dirancang untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris dalam konteks akademik dan profesional. Tes ini digunakan oleh universitas, perusahaan, dan lembaga imigrasi untuk memastikan bahwa kandidat bisa berkomunikasi secara efektif di lingkungan yang menuntut presisi dan kedalaman berpikir.

Lebih lanjut, IELTS mencerminkan penggunaan bahasa dalam situasi real-world seperti kuliah di universitas berbahasa Inggris, bekerja di perusahaan multinasional, atau berintegrasi dalam masyarakat berbahasa Inggris. Ini berarti tes tidak hanya menguji vocabulary dasar, tapi juga kemampuan kritis dalam berpikir dan menyampaikan ide secara koheren.

Di dalamnya ada empat skill utama:

  • Listening
  • Reading
  • Writing
  • Speaking

Keempatnya dinilai dengan kriteria yang sangat spesifik. Bahkan native speaker pun bisa “kepleset” kalau nggak paham format dan standar penilaiannya. Misalnya di Listening, bukan hanya mendengar kata-kata, tapi juga menangkap nuansa, sinonim, dan konteks yang sering kali menjebak. Begitu juga di Reading, di mana teksnya sering kali berasal dari jurnal akademik atau artikel berita yang kompleks, dan memerlukan kemampuan pemahaman mendalam dalam waktu yang terbatas.

Tips praktis untuk mengatasi ini adalah dengan berlatih menggunakan materi resmi IELTS, seperti Cambridge IELTS books, yang menyediakan contoh soal autentik beserta penjelasan. Selain itu, memahami perbedaan antara Academic dan General Training module juga penting, tergantung pada tujuan tesmu, apakah untuk studi atau imigrasi.

Kenapa Native Speaker Bisa Dapat Skor IELTS Biasa Saja?

Ini bagian yang sering bikin kaget. Berikut beberapa alasan kenapa native speaker tidak otomatis unggul di IELTS. Kita akan bahas satu per satu dengan contoh dan insight agar lebih mudah dipahami. Pembahasan ini didasarkan pada pengalaman ribuan peserta tes dari berbagai latar belakang, serta analisis dari lembaga penyelenggara seperti British Council dan IDP, yang menunjukkan pola umum kegagalan meskipun memiliki kemampuan bahasa tinggi.

1. Terbiasa dengan Bahasa Informal, Bukan Akademik

Native speaker biasanya memakai bahasa Inggris versi santai, penuh slang, dan ekspresi sehari-hari. Sementara IELTS terutama di Writing dan Speaking, menuntut bahasa yang lebih terstruktur, formal, dan akademik. Ini seperti perbedaan antara chatting dengan teman dan menulis laporan bisnis, keduanya bahasa Inggris, tapi gaya dan pendalamannya berbeda jauh. Transisi dari bahasa informal ke formal ini memerlukan kesadaran diri yang tinggi, dan tanpa latihan, hal ini bisa menjadi hambatan yang signifikan.

Contohnya:

  • Terlalu banyak pakai slang seperti “gonna” atau “wanna” yang tidak cocok untuk esai formal, yang bisa menurunkan skor lexical resource karena dianggap tidak sesuai konteks
  • Kalimat nggak rapi secara struktur, misalnya terlalu pendek atau tidak menggunakan linking words dengan baik, yang mempengaruhi coherence and cohesion
  • Ide bagus tapi penyampaian kurang akademis, seperti kurangnya contoh atau data pendukung, yang gagal memenuhi kriteria task response

Di mata examiner IELTS, ini bisa menurunkan skor. Bahasa akademik memerlukan latihan khusus bahkan untuk para native speaker, karena tidak semua orang terbiasa menulis atau berbicara dalam gaya formal sepanjang waktu. Tips untuk mengatasinya adalah membaca artikel akademik dari sumber seperti The Guardian atau BBC, dan kemudian meniru gaya penulisannya dalam latihan writing. Selain itu, bergabung dengan komunitas online seperti Reddit’s r/IELTS bisa memberikan feedback dari sesama peserta tes.

2. Nggak Paham Kriteria Penilaian IELTS

IELTS punya band descriptor yang jelas, misalnya:

  • Task Achievement
  • Coherence and Cohesion
  • Lexical Resource
  • Grammatical Range and Accuracy

Native speaker yang asal nulis tanpa strategi bisa gagal dalam memenuhi kriteria ini. Bisa bahasa Inggris ≠ tahu cara dapet skor IELTS tinggi. Misalnya, dalam Task Achievement, jawaban harus langsung menjawab pertanyaan tanpa melebar, sesuatu yang sering diabaikan oleh mereka yang terlalu percaya diri dengan kemampuan bahasa alami mereka.

Tips: Selalu pelajari band descriptor secara mendalam sebelum tes untuk memahami apa yang dicari examiner. Kamu bisa mengunduh band descriptors resmi dari situs IELTS.org dan menggunakannya sebagai checklist saat latihan. Narasi dari peserta tes menunjukkan bahwa pemahaman ini bisa meningkatkan skor hingga 1 band hanya dengan penyesuaian strategi.

3. Writing IELTS Itu “Perangkap” untuk Native Speaker

Banyak native speaker yang justru kesulitan di Writing Task 1 dan Task 2 karena:

  • Nggak terbiasa nulis esai secara terstruktur dengan paragraf yang jelas dan transisi halus, yang memerlukan perencanaan outline sebelum menulis
  • Kurang fokus ke analisis data, seperti menggambarkan grafik atau proses dengan akurat, sering kali mengabaikan tren dan perbandingan kunci
  • Jawaban melebar, tidak fokus ke pertanyaan, sehingga gagal mencapai word count minimal dengan konten relevan, yang bisa dihindari dengan teknik brainstorming cepat

Sementara non-native speaker yang latihan intensif biasanya justru lebih “patuh aturan”. Ini menunjukkan bahwa persiapan sistematis sering kali mengalahkan bakat alami, dan ini adalah pelajaran berharga bagi siapa saja yang ingin sukses di IELTS. Menggunakan template esai standar untuk Task 2 seperti introduction-body-conclusion, bisa membantu native speaker dalam mengatur ide mereka agar lebih baik, sehingga meningkatkan skor secara keseluruhan.

4. Speaking IELTS Butuh Strategi, Bukan Sekadar Lancar

Di Speaking, kelancaran memang penting. Tapi bukan satu-satunya faktor. IELTS menilai:

  • Struktur jawaban yang logis dengan pengantar, isi, dan kesimpulan, yang membuat respons terdengar profesional
  • Pengembangan ide yang mendalam dengan contoh dan penjelasan, bukan hanya pernyataan singkat
  • Variasi kosakata yang luas, termasuk idiom dan phrasal verbs yang tepat, untuk menunjukkan lexical range
  • Ketepatan grammar dalam konteks yang kompleks, untuk menghindari kesalahan sederhana meskipun fluent

Native speaker yang jawab terlalu singkat, terlalu santai, atau kurang eksplorasi ide bisa kehilangan poin. Latihan speaking dengan rekaman diri sendiri dan membandingkan dengan contoh band tinggi bisa membantu mengidentifikasi kelemahan ini. Selain itu, berlatih dengan partner atau tutor bisa mensimulasikan situasi tes nyata, termasuk menghadapi pertanyaan tak terduga, yang sering menjadi titik lemah bagi native speaker yang terlalu mengandalkan improvisasi alami.

Baca juga: Ujian IELTS! Sekadar Tes Bahasa atau Kunci Masa Depan? Ini Fakta yang Wajib Kamu Tahu

Apakah Native Speaker Punya Keuntungan Sama Sekali?

Jawabannya: iya, tapi terbatas.

Keuntungan native speaker biasanya ada di:

  • Pronunciation lebih natural, yang membuat mereka terdengar autentik dan mudah dipahami, sehingga skor fluency and pronunciation cenderung tinggi
  • Listening lebih intuitif, karena terbiasa dengan berbagai aksen dan kecepatan bicara, termasuk variasi regional seperti British vs American English
  • Kosakata aktif lebih luas, yang memungkinkan mereka untuk mengekspresikan ide dengan lebih variatif, meskipun perlu disesuaikan dengan konteks akademik

Tapi keunggulan ini nggak cukup kalau tidak dibarengi dengan pemahaman terhadap format IELTS. Tanpa strategi, keunggulan alami ini bisa terbuang percuma. Sebagai contoh, meskipun pronunciation bagus, jika jawaban speaking tidak mengembangkan topik secara mendalam, skor tetap bisa rendah. Insight dari para tutor IELTS menunjukkan bahwa menggabungkan keuntungan alami ini dengan latihan terstruktur bisa menghasilkan skor yang optimal, tapi tanpa itu, potensi tidak akan terealisasi sepenuhnya.

Kenapa Banyak Non-Native Speaker Justru Skornya Lebih Tinggi?

Ini fakta yang sering bikin minder, tapi justru harus jadi motivasi. Banyak cerita sukses dari non-native speaker yang berasal dari negara non-Inggris, seperti Asia atau Eropa Timur, yang mencapai band 8.5 atau lebih tinggi melalui dedikasi. Cerita-cerita ini sering dibagikan di platform seperti YouTube atau forum IELTS, di mana peserta berbagi perjalanan mereka dari level intermediate ke advanced dalam waktu yang relatif singkat.

Non-native speaker yang serius persiapan biasanya:

  • Paham format soal secara detail, termasuk tipe pertanyaan yang sering muncul, seperti multiple choice atau sentence completion
  • Hafal tipe pertanyaan dan cara menjawabnya secara efektif, menggunakan teknik seperti paraphrasing untuk menghindari jebakan
  • Terbiasa nulis sesuai band descriptor, dengan fokus pada struktur dan kedalaman, termasuk penggunaan complex sentences
  • Fokus ke strategi, bukan cuma feeling, seperti menggunakan teknik time management untuk membagi waktu antar section

Mereka belajar IELTS sebagai “game dengan aturan”, bukan sekadar tes bahasa. Ini membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, siapa pun bisa mengalahkan asumsi umum tentang native speaker.

Tips untuk non-native: Mulai dengan diagnostic test untuk mengidentifikasi kelemahan, kemudian buat jadwal belajar mingguan yang mencakup semua skills, dan jangan lupa istirahat untuk menghindari burnout.

IELTS Itu Tes Strategi, Bukan Tes Bakat

Kalau harus dirangkum dalam satu kalimat:
IELTS lebih mirip ujian strategi daripada tes bakat bahasa.

Makanya:

  • Native speaker tanpa persiapan bisa stuck di band 6.5–7, karena mengandalkan intuisi saja, tanpa mempertimbangkan kriteria penilaian
  • Non-native speaker dengan latihan intensif bisa tembus band 8+, melalui praktik berulang dan analisis kesalahan

Yang diuji bukan cuma “seberapa jago bahasa Inggris”, tapi seberapa paham kamu dalam menjawab IELTS dengan benar. Ini termasuk memahami jebakan-jebakan umum, seperti sinonim di Listening atau pertanyaan tersirat di Reading. Mengikuti mock test secara rutin bisa mensimulasikan kondisi tes nyata, ini membantu untuk membangun stamina dan kepercayaan diri, yang sering kali menjadi faktor penentu antara skor rata-rata dan skor tinggi.

Skill Paling Krusial di IELTS (Bahkan untuk Native Speaker)

Writing: Penentu Skor Tinggi

Writing sering jadi penentu naik-turunnya skor total IELTS. Bahkan native speaker pun sering:

  • Kehabisan waktu karena tidak merencanakan outline terlebih dahulu, yang bisa dihindari dengan alokasi 5 menit untuk planning
  • Salah fokus ke pertanyaan, sehingga jawaban jadi tidak relevan, sering kali karena misreading prompt
  • Kurang jelas menyusun argumen dengan bukti dan contoh, yang memerlukan latihan dalam mengintegrasikan evidence

Latihan writing dengan feedback profesional itu wajib, tanpa pengecualian. Mulailah dengan menulis esai setiap hari dan minta review dari tutor untuk meningkatkan coherence dan lexical resource. Selain itu, pelajari contoh esai band 9 dari sumber resmi untuk melihat bagaimana struktur ideal terlihat, dan terapkan dalam praktikmu sendiri.

Reading: Bukan Soal Bisa Baca, Tapi Bisa Menjawab

Native speaker bisa baca cepat, tapi IELTS Reading butuh:

  • Skimming untuk mendapatkan gambaran umum teks, yang membantu dalam matching headings
  • Scanning untuk menemukan informasi spesifik dengan cepat, terutama untuk locating questions
  • Paham jenis soal seperti matching headings atau true/false/not given, yang sering menjebak dengan distractors

Tanpa latihan, kecepatan baca malah jadi bumerang karena bisa melewatkan detail penting. Praktik dengan teks akademik asli bisa membantu dalam membangun kebiasaan ini. Coba baca jurnal dari situs seperti JSTOR atau PubMed untuk membiasakan diri dengan bahasa yang kompleks, dan kombinasikan dengan timer untuk meningkatkan efisiensi waktu.

Baca juga: Ini Istilah Tunjangan di Jepang yang Wajib Kamu Ketahui Sebelum Bekerja Disana!

Jadi, Native Speaker Masih Perlu Kursus IELTS?

Jawabannya: iya, kalau targetnya skor tinggi.

Banyak native speaker yang justru ikut kursus IELTS untuk:

  • Memahami format tes secara komprehensif, termasuk durasi dan tipe soal, yang sering diabaikan
  • Belajar strategi answering yang efektif, seperti bagaimana mengatur waktu antar tasks
  • Menyesuaikan gaya bahasa dengan standar IELTS, dari informal ke formal, melalui latihan targeted

Apalagi buat kebutuhan akademik, migrasi, atau beasiswa, skor tinggi itu bukan opsional. Kursus bisa memberikan edge yang dibutuhkan untuk mencapai band 8 atau lebih. Pilih kursus yang menawarkan one-on-one coaching untuk feedback personal, karena ini lebih efektif daripada kelas besar, terutama bagi native speaker yang perlu fine-tuning daripada pembelajaran dasar.

Native Speaker ≠ Skor IELTS Tinggi Otomatis

Mari lurusin satu hal penting:

  • Native speaker punya potensi, tapi bukan jaminan sukses tanpa usaha, karena tes memerlukan adaptasi
  • IELTS menguji teknik, struktur, dan strategi yang bisa dipelajari oleh siapa saja dengan dedikasi
  • Siapa pun bisa dapat skor tinggi kalau persiapannya tepat dan konsisten, termasuk melalui rutinitas harian

Jadi kalau kamu non-native speaker, nggak ada alasan buat minder. Dengan latihan yang benar, skor tinggi itu realistis dan achievable. Banyak testimoni dari siswa yang mulai dari band 5 dan naik ke 7.5 hanya dalam beberapa bulan dengan pendekatan yang tepat. Narasi sukses ini sering melibatkan kombinasi self-study dan bimbingan profesional, yang menekankan pentingnya konsistensi dan refleksi atas kesalahan sebelumnya.

Rekomendasi Persiapan IELTS yang Lebih Efektif

Kalau kamu ingin:

  • Paham strategi IELTS dari dasar hingga advance, mencakup semua modules
  • Dapat feedback writing & speaking yang detail dan personal, untuk perbaikan targeted
  • Belajar langsung dari tutor berpengalaman dengan track record sukses, yang paham jebakan umum
  • Sekalian butuh jasa penerjemah profesional untuk dokumen akademik atau resmi, agar semuanya selaras

Ultimate Education bisa jadi pilihan yang tepat.

Ultimate Education menyediakan kursus dan bimbingan IELTS yang fokus ke strategi, bukan sekadar teori, plus layanan penerjemah yang rapi, akurat, dan sesuai standar internasional. Cocok banget buat kamu yang serius ngejar skor IELTS terbaik tanpa buang waktu trial and error. Dengan kurikulum yang disesuaikan kebutuhan individu, kamu bisa melihat kemajuan nyata dalam waktu singkat. Selain itu, mereka menawarkan modul online dan offline, yang memudahkan akses bagi peserta dari berbagai lokasi, serta update materi sesuai perubahan tes terbaru.

Kalau mau persiapan IELTS yang lebih terarah dan hasilnya terasa, Ultimate Education layak banget masuk wishlist kamu. Jangan ragu untuk konsultasi gratis dulu untuk mengetahui levelmu saat ini dan rencana belajar yang optimal. Konsultasi ini bisa menjadi langkah awal untuk mapping kelemahan dan kekuatanmu, sehingga program belajar jadi lebih efisien dan efektif.