
Kalau kamu lagi kepikiran kuliah ke luar negeri, daftar beasiswa internasional, atau kerja di perusahaan multinasional, satu tes bahasa Inggris yang hampir pasti muncul di radar adalah IELTS. Tes ini sering banget disebut sebagai “standar emas” kemampuan bahasa Inggris internasional. Tapi, pernah nggak sih kamu kepikiran, sebenarnya sejarah IELTS itu gimana? Kok bisa satu tes bahasa Inggris punya pengaruh sebesar ini di seluruh dunia?
Faktanya, IELTS bukan ujian yang muncul begitu saja. Di balik namanya yang sekarang terdengar prestisius, ada perjalanan panjang, eksperimen sistem tes, dan perubahan kebutuhan global yang bikin IELTS berkembang jadi seperti sekarang. Artikel ini bakal ngajak kamu flashback ke masa lalu, ngulik asal-usul IELTS, sampai akhirnya mendunia dan jadi salah satu tes bahasa Inggris paling diakui di planet bumi ini.
Sejarah IELTS sebenarnya mencerminkan bagaimana bahasa Inggris menjadi bahasa universal di era globalisasi. Mulai dari era pasca-Perang Dunia II, ketika perdagangan internasional dan pertukaran budaya jadi semakin intens, kebutuhan akan standar bahasa yang terukur menjadi semakin mendesak. IELTS hadir sebagai respons terhadap dinamika ini, yang membantu individu dari berbagai latar belakang untuk membuktikan kemampuan mereka dalam berkomunikasi efektif. Dengan memahami latar belakang ini, kamu bisa lebih menghargai nilai tes yang bukan hanya sebagai syarat administratif, tapi juga sebagai alat yang mendukung mobilitas global.
Baca juga: Apa Itu IELTS? Ini Panduan Lengkap untuk Pemula yang Lagi Ngerencanain Masa Depan
Awal Mula Kebutuhan Tes Bahasa Inggris Internasional
Untuk memahami sejarah IELTS, kita harus mundur ke era ketika mobilitas global mulai meningkat pesat. Sekitar pertengahan abad ke-20, banyak orang dari negara non-berbahasa Inggris mulai pindah ke negara seperti Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru. Alasannya macam-macam, mulai dari pendidikan, pekerjaan, sampai migrasi permanen.
Masalahnya, waktu itu belum ada standar tes bahasa Inggris yang benar-benar fokus pada kemampuan komunikasi nyata. Banyak tes bahasa Inggris yang masih menitikberatkan pada hafalan tata bahasa dan kosakata, bukan pada kemampuan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari atau lingkungan akademik.
Universitas dan institusi di negara berbahasa Inggris mulai sadar bahwa mereka butuh alat ukur yang lebih relevan. Mereka nggak cuma ingin tahu apakah seseorang paham grammar, tapi juga apakah calon mahasiswa bisa mengikuti kuliah, diskusi, menulis esai, dan memahami materi akademik dalam bahasa Inggris. Dari sinilah benih awal tercetusnya Tes IELTS mulai tumbuh.
Lebih lanjut, pada masa itu, gelombang imigrasi pasca-perang membuat pemerintah dari negara-negara tersebut harus memastikan bahwa pendatang baru bisa berintegrasi dengan baik ke dalam masyarakat. Ini termasuk kemampuan berbahasa yang tidak hanya teoritis, tapi juga praktis. Sejarah IELTS dimulai dari pengakuan bahwa bahasa adalah kunci integrasi sosial dan ekonomi. Misalnya di Inggris, lonjakan mahasiswa internasional dari Asia dan Afrika membuat universitas seperti Oxford dan Cambridge mencari cara untuk menyaring kandidat yang benar-benar siap. Insight ini menunjukkan bahwa IELTS bukan hanya tes, tapi bagian dari evolusi pendidikan global yang menekankan inklusivitas dan kualitas.
Lahirnya ELTS, Cikal Bakal IELTS
Sejarah IELTS secara resmi dimulai pada tahun 1980 dengan hadirnya tes bernama ELTS (English Language Testing Service). Tes ini dikembangkan oleh University of Cambridge Local Examinations Syndicate bersama British Council. ELTS bisa dibilang sebagai versi awal IELTS, meskipun format dan pendekatannya masih cukup berbeda dengan yang kita kenal sekarang.
Yang bikin ELTS menarik adalah pendekatannya yang kontekstual. Tes ini dirancang berdasarkan tujuan penggunaan bahasa Inggris peserta. Ada modul yang fokus ke bidang akademik, dan ada juga yang lebih ke kebutuhan umum atau profesional. Ini konsep yang cukup revolusioner pada masanya, karena tes bahasa Inggris sebelumnya cenderung seragam untuk semua orang.
Namun, ELTS juga punya tantangan. Formatnya dinilai terlalu kompleks dan sulit diterapkan secara luas. Dari sisi penyelenggara, tes ini membutuhkan sumber daya besar. Dari sisi peserta, strukturnya terasa rumit dan kurang praktis. Akhirnya, para ahli sadar bahwa perlu ada penyempurnaan besar-besaran.
Menelusuri lebih dalam, ELTS lahir dari kolaborasi internasional yang melibatkan pakar linguistik dari berbagai negara. Ini adalah langkah awal dalam membuat tes yang tidak bias terhadap satu varian bahasa Inggris saja, seperti British English. Narasi sejarah IELTS menunjukkan bagaimana ELTS menjadi eksperimen yang berharga, di mana feedback dari ribuan peserta pertama membantu membentuk fondasi IELTS yang modern. Bagi kamu yang penasaran, ELTS pada awalnya hanya memiliki enam modul spesifik berdasarkan bidang studi, seperti sains atau humaniora, yang kemudian disederhanakan untuk efisiensi.
Tips persiapan: Jika kamu belajar mengenai sejarah tes ini, gunakan itu sebagai motivasi untuk memahami mengapa setiap bagian tes dirancang demikian. Misalnya, modul akademik ELTS yang fokus pada konteks spesifik bisa menginspirasi kamu untuk latihan reading dengan teks dari jurnal ilmiah.
Transformasi Menjadi IELTS
Setelah melalui berbagai evaluasi dan riset, pada tahun 1989 ELTS resmi berevolusi menjadi IELTS (International English Language Testing System). Inilah momen penting dalam sejarah IELTS, karena sejak saat itu tes ini mulai dibangun dengan visi global yang lebih kuat.
IELTS hadir dengan format yang lebih sederhana, tapi tetap komprehensif. Empat keterampilan utama bahasa Inggris diuji secara seimbang: Listening, Reading, Writing, dan Speaking. Yang bikin IELTS beda adalah tes Speaking dilakukan secara tatap muka dengan examiner, bukan lewat komputer atau rekaman suara. Pendekatan ini dianggap lebih manusiawi dan lebih akurat dalam menilai kemampuan komunikasi nyata.
Selain itu, IELTS juga memperkenalkan dua modul utama, yaitu Academic dan General Training. Modul Academic ditujukan untuk calon mahasiswa dan akademisi, sementara General Training lebih cocok untuk kebutuhan kerja, migrasi, dan kehidupan sehari-hari. Pembagian ini membuat IELTS terasa lebih relevan untuk berbagai tujuan, bukan cuma dunia kampus.
Transformasi ini didasari oleh riset mendalam yang melibatkan psikometri dan linguistik terapan. Sejarah IELTS mencatat bahwa perubahan ini meningkatkan reliabilitas tes hingga 95%, membuatnya lebih dapat diandalkan. Narasi di balik ini adalah bagaimana tim pengembang belajar dari kegagalan ELTS untuk menciptakan sistem yang lebih inklusif. Modul General Training misalnya, dirancang untuk menilai kemampuan dalam situasi seperti wawancara kerja atau interaksi sosial, yang sering diabaikan tes lain.
Bagi peserta potensial, tipsnya adalah pilih modul yang sesuai dengan tujuanmu. Jika untuk studi, fokus pada Academic, dan jika untuk imigrasi, General Training bisa lebih mudah karena topiknya lebih banyak pada kehidupan sehari-hari.
Peran Tiga Institusi Besar di Balik IELTS
Salah satu alasan kenapa IELTS bisa cepat dipercaya adalah karena siapa saja yang ada di baliknya. Sampai sekarang, IELTS dikelola oleh tiga institusi besar yang punya reputasi global, yaitu British Council, IDP Education, dan Cambridge Assessment English.
British Council punya pengalaman panjang dalam pengajaran bahasa Inggris dan hubungan internasional. IDP Education berasal dari Australia dan punya koneksi kuat dengan dunia pendidikan global. Sementara Cambridge Assessment English dikenal sebagai lembaga pengujian akademik yang kredibel dan ketat secara standar.
Kolaborasi tiga institusi ini bikin IELTS punya fondasi yang kuat! Baik itu dari sisi akademik, operasional, maupun pengakuan internasional. Ini juga jadi salah satu faktor penting dalam sejarah IELTS yang membedakannya dari tes bahasa Inggris lain.
Lebih detail, British Council telah mengelola program bahasa sejak 1934, membawa expertise dalam promosi budaya Inggris secara global. IDP, didirikan pada 1969, fokus pada pendidikan Australia dan telah membantu jutaan siswa internasional. Cambridge Assessment, bagian dari University of Cambridge, menjamin standar akademik tinggi. Kolaborasi ini memastikan tes tetap netral dan tidak didominasi satu negara, sehingga dapat diterima dengan luas.
Tips: Saat memilih pusat tes, pertimbangkan yang dikelola oleh salah satu dari tiga ini untuk memastikan kualitas dan pengakuan. Ini bisa menjadi strategi untuk menghindari masalah administratif di kemudian hari.
Baca juga: Gak Cuma Modal Pintar! Ini Tips Memaksimalkan Peluang Kerja di Perusahaan Internasional
Perkembangan IELTS di Era Globalisasi
Masuk ke era 1990-an dan awal 2000-an, globalisasi makin ngebut. Internet mulai berkembang, pertukaran pelajar meningkat, dan perusahaan multinasional juga bermunculan di berbagai negara. Di titik ini, IELTS mulai benar-benar mendunia.
Universitas di Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Kanada mulai menjadikan IELTS sebagai syarat resmi penerimaan mahasiswa internasional. Nggak lama kemudian, Amerika Serikat yang awalnya lebih condong ke TOEFL juga mulai menerima IELTS sebagai alternatif.
Dalam sejarah IELTS, fase ini bisa dibilang sebagai masa ekspansi besar-besaran. Jumlah peserta tes meningkat drastis setiap tahunnya. IELTS nggak lagi sekadar tes bahasa Inggris, tapi berubah jadi tiket global untuk pendidikan dan karier internasional.
Ekspansi ini didorong oleh perjanjian perdagangan bebas seperti NAFTA dan pendirian Uni Eropa, yang meningkatkan mobilitas tenaga kerja. Sejarah IELTS mencatat peningkatan peserta dari 4.000 pada 1989 menjadi jutaan sekarang. Narasi ini menunjukkan bagaimana tes ini beradaptasi dengan tren seperti e-learning dan kerja remote. Di Asia khususnya Indonesia, pertumbuhan peserta IELTS mencerminkan aspirasi generasi muda untuk studi di luar negeri.
Jika kamu menargetkan beasiswa seperti Chevening atau Fulbright, skor IELTS minimal 6.5 sering jadi syarat. Persiapkan dengan memahami tren topik tes, seperti isu lingkungan atau teknologi yang sering muncul di era globalisasi ini.
Adaptasi Format dan Sistem Penilaian
Meski punya standar yang ketat, IELTS bukan sistem yang kaku. Salah satu kekuatan IELTS adalah kemampuannya beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sistem penilaian band score dari 0 sampai 9 terus disempurnakan agar makin akurat dan adil.
Materi tes juga terus diperbarui supaya relevan dengan konteks modern. Topik listening dan reading nggak lagi terasa jadul, tapi mengikuti isu-isu global, akademik, dan kehidupan sehari-hari yang realistis. Bahkan aksen dalam listening diperluas, nggak cuma British accent, tapi juga Australian, New Zealand, dan aksen internasional lainnya. Semua ini menunjukkan bahwa dalam sejarah IELTS, pembaruan adalah kunci utama agar tes ini tetap relevan dan dipercaya.
Adaptasi ini melibatkan panel ahli yang mereview konten setiap tahun. Misalnya, penambahan aksen Amerika pada 2010-an untuk mencerminkan pengaruh Hollywood dan bisnis AS. Sistem band score dirancang berdasarkan Common European Framework of Reference (CEFR), yang membuatnya kompatibel dengan standar Eropa.
Tips: Untuk meningkatkan skor, latihanlah dengan materi terbaru. Fokus pada writing task 2 dengan topik kontemporer seperti AI atau perubahan iklim, yang sering diupdate untuk relevansi.
IELTS di Era Digital
Dulu, IELTS identik dengan ujian kertas dan pensil. Tapi sekarang, sejarah IELTS masuk babak baru dengan hadirnya IELTS on Computer. Peserta bisa memilih mengerjakan listening, reading, dan writing lewat komputer, sementara speaking tetap dilakukan secara langsung atau via video call dengan examiner.
Hasil tes pun keluar lebih cepat dibandingkan versi paper-based. Ini jelas jadi solusi buat generasi sekarang yang serba cepat dan nggak suka nunggu lama. Meski formatnya berubah, standar penilaian tetap sama, jadi nggak ada perbedaan tingkat kesulitan antara IELTS komputer dan kertas.
Era digital ini dimulai sekitar 2017, dengan peluncuran di Australia. Sekarang, tersedia di lebih dari 140 negara. Format komputer memungkinkan fitur seperti highlighting teks di reading, yang memudahkan peserta. Transisi ini merupakan respons terhadap pandemi COVID-19, di mana tes online menjadi kebutuhan.
Tips: Jika kamu nyaman dengan teknologi, pilih versi komputer untuk kecepatan hasil (3-5 hari). Latihanlah dengan software simulasi untuk membiasakan diri dengan antarmuka.
Kenapa IELTS Tetap Relevan Sampai Sekarang?
Kalau dilihat dari sejarah IELTS, alasan kenapa tes ini tetap eksis dan relevan cukup jelas. IELTS bukan cuma menguji teori bahasa, tapi kemampuan komunikasi yang nyata. Tes ini dirancang untuk mencerminkan situasi dunia nyata, baik di kampus, tempat kerja, maupun kehidupan sehari-hari.
Selain itu, pengakuan globalnya sangat luas. Saat ini, IELTS diterima oleh lebih dari 11.000 institusi di seluruh dunia, termasuk universitas top, perusahaan internasional, dan lembaga imigrasi. Ini bikin IELTS punya nilai strategis yang tinggi buat siapa pun yang punya mimpi go international.
Relevansi ini didukung oleh data: Lebih dari 3 juta tes diambil setiap tahun. Di tengah persaingan dengan tes seperti PTE atau Duolingo, IELTS unggul karena faktor manusia di speaking. Narasi sejarah IELTS menekankan bagaimana tes ini berkontribusi pada kesetaraan pendidikan global.
Tips: Integrasikan persiapan IELTS dengan pengembangan skill nyata, seperti bergabung klub debat atau menonton TED Talks, untuk membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan efektif.
Baca juga: 3 Jenis CV Ini Bisa Jadi Modal Kuat untuk Lolos Beasiswa Luar Negeri
IELTS dan Generasi Muda
Buat generasi sekarang, IELTS sering dianggap sebagai investasi masa depan. Skor IELTS bukan cuma angka, tapi bukti kesiapan bersaing di level global. Nggak heran kalau semakin banyak pelajar SMA, mahasiswa, dan fresh graduate yang mulai mempersiapkan IELTS sejak dini.
Melihat perjalanan panjang dalam sejarah IELTS, jelas bahwa tes ini bukan tren sesaat. IELTS lahir dari kebutuhan nyata, tumbuh lewat riset dan evaluasi, dan bertahan karena terus beradaptasi dengan zaman.
Bagi generasi Z dan milenial, IELTS menjadi simbol aspirasi digital-native. Survei menunjukkan 70% peserta muda menggunakan apps seperti Duolingo untuk persiapan.
Tips: Mulai dini dengan target skor bertahap, seperti dari 5.5 ke 7.0, dan gunakan komunitas online untuk sharing pengalaman.
Selain itu, pahami bahwa IELTS bisa membuka pintu beasiswa seperti LPDP di Indonesia, di mana skor tinggi akan memberikan keunggulan yang kompetitif. Ini membuat persiapan bukan hanya belajar, tapi strategi jangka panjang untuk karir.
IELTS Bukan Sekadar Tes, Tapi Gerbang Kesempatan

Kalau ditarik kesimpulan, sejarah IELTS adalah cerita tentang bagaimana sebuah tes bahasa Inggris bisa berkembang mengikuti kebutuhan dunia global. Dari ELTS yang eksperimental, hingga IELTS yang kita kenal sekarang sebagai standar internasional, semuanya melalui proses yang panjang dan matang.
Memahami sejarah IELTS juga bikin kita sadar bahwa tes ini bukan sekadar formalitas. Di balik setiap soal, ada tujuan untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris secara nyata dan relevan. Jadi, kalau kamu punya rencana besar ke depan, IELTS bisa jadi salah satu langkah strategis yang layak dipersiapkan dengan serius.
Kesimpulan ini menggarisbawahi bahwa IELTS adalah gerbang ke peluang yang tak terbatas. Banyak alumni IELTS yang sukses seperti entrepreneur tech di Silicon Valley atau diplomat internasional.
Tips akhir: Jangan anggap IELTS sebagai beban, tapi anggaplah kesempatan untuk upgrade skill bahasa yang akan berguna seumur hidup.
Rekomendasi Persiapan IELTS yang Tepat
Biar persiapan IELTS kamu lebih terarah dan nggak asal belajar, Ultimate Education hadir sebagai salah satu rekomendasi tempat kursus terbaik. Ultimate Education menyediakan kursus dan bimbingan IELTS dengan materi terstruktur, strategi menjawab soal yang up to date, serta mentor berpengalaman yang paham kebutuhan tiap peserta.
Nggak cuma itu, Ultimate Education juga menyediakan jasa penerjemah profesional untuk kebutuhan akademik maupun profesional, jadi cocok banget buat kamu yang sedang mempersiapkan studi atau karier internasional. Dengan pendampingan yang tepat, target skor IELTS bukan cuma mimpi, tapi tujuan yang realistis dan bisa dicapai.
Kalau kamu serius ingin menjadikan IELTS sebagai pintu menuju masa depan global, persiapan yang tepat adalah kuncinya. Lebih lanjut, Ultimate Education menawarkan kelas kecil untuk interaksi maksimal, simulasi tes rutin, dan akses ke library materi eksklusif.
