Back

12 Tips IELTS Writing yang Sering Dilupakan Peserta, Padahal Bisa Bikin Skor Melejit

tips ielts writing

Kalau kamu lagi persiapan IELTS, pasti sadar kalau bagian Writing itu termasuk yang paling bikin pusing. Bukan cuma karena harus nulis dalam bahasa Inggris, tapi juga karena banyak banget aturan dan kriteria penilaian yang kadang nggak dijelasin secara detail ke peserta. Persiapan IELTS Writing memang memerlukan pemahaman mendalam tentang bagaimana examiner menilai tulisan kamu, mulai dari struktur hingga penggunaan bahasa yang efektif.

Banyak calon peserta yang merasa overwhelmed karena harus menyeimbangkan antara konten yang informatif dan gaya penulisan yang akademis, tapi jangan khawatir, dengan tips yang tepat, kamu bisa mengatasi tantangan ini secara bertahap. Banyak orang yang sudah belajar grammar, hafal struktur essay, bahkan rajin latihan nulis, tapi tetap aja, skor Writing mereka stuck di angka yang sama. Bukan karena mereka nggak pintar, tapi karena ada beberapa tips penting yang sering banget dilupakan.

Padahal kalau tips ini diterapin, skor bisa naik cukup signifikan. Masalah ini sering terjadi karena kurangnya fokus pada aspek-aspek seperti koherensi ide dan variasi kosakata, yang sebenarnya bisa ditingkatkan dengan latihan yang terarah. Selain itu, memahami konteks budaya dan topik global juga bisa membantu dalam mengembangkan argumen yang lebih kuat dan relevan, sehingga tulisan kamu tidak hanya memenuhi kriteria tapi juga menarik perhatian examiner.

Nah, di artikel ini kita bakal bahas tips IELTS Writing yang sering diremehkan tapi sebenarnya krusial banget. Bukan teori berat, tapi hal-hal praktis yang sering terjadi di dunia nyata. Cocok buat kamu yang pengen skor Writing lebih stabil dan nggak anjlok pas hari H. Kita akan menyelami setiap tips dengan penjelasan mendetail, contoh-contoh sederhana, dan insight yang bisa langsung diterapkan dalam latihan harian kamu. Dengan menerapkan tips ini, kamu tidak hanya meningkatkan skor, tapi juga membangun kepercayaan diri dalam menulis esai yang persuasif dan terstruktur dengan baik.

Baca juga: Perbedaan Antara IELTS dan TOEFL! Jangan Sampai Salah Pilih Tes

Kenapa IELTS Writing Itu Susah?

Sebelum masuk ke tipsnya, kita perlu ngerti dulu kenapa Writing IELTS terasa jauh lebih sulit dibanding skill lainnya. Listening dan Reading masih bisa dilatih dengan banyak latihan soal. Speaking bisa dilatih lewat praktik ngobrol. Tapi Writing itu beda cerita. Kesulitan utama terletak pada kebutuhan untuk mengintegrasikan berbagai kemampuan sekaligus, seperti analisis topik, perencanaan struktur, dan eksekusi bahasa yang presisi, semuanya dalam batas waktu yang ketat. Selain itu, faktor psikologis seperti kecemasan ujian juga sering mempengaruhi performa, yang membuat peserta kesulitan untuk mengekspresikan ide secara optimal.

Di Writing, kamu dinilai dari banyak aspek sekaligus, mulai dari Task Response, Coherence and Cohesion, Lexical Resource, sampai Grammatical Range and Accuracy. Jadi bukan cuma soal jawaban benar atau salah, tapi seberapa matang tulisan kamu secara keseluruhan. Setiap aspek ini saling terkait, misalnya task response yang baik memerlukan pemahaman mendalam tentang pertanyaan, sementara coherence memastikan alur logis yang mudah diikuti. Untuk mencapai keseimbangan ini, peserta perlu melatih kemampuan multitasking dalam menulis, yang sering kali memerlukan bimbingan eksternal untuk mengidentifikasi kelemahan spesifik.

Masalahnya, banyak peserta fokus ke hal-hal besar seperti “harus pakai vocab susah” atau “harus bikin essay panjang”. Padahal, justru detail kecil yang sering dilupakan itu yang bikin skor jatuh pelan-pelan. Detail seperti penggunaan linking words yang tepat atau pengembangan paragraf yang mendalam bisa menjadi pembeda antara band 6 dan band 7. Dengan memahami mengapa bagian ini sulit, kamu bisa mengadopsi pendekatan yang lebih strategis, seperti memulai dengan outline sederhana sebelum menulis penuh, untuk memastikan semua elemen tercakup secara efektif.

1. Tidak Menjawab Soal Secara Penuh

Ini kesalahan paling klasik dan paling sering kejadian. Banyak peserta nulis panjang lebar, tapi sebenarnya tidak menjawab semua bagian pertanyaan. Kesalahan ini sering muncul karena kurangnya analisis awal terhadap prompt, di mana peserta langsung melompat ke penulisan tanpa memecah elemen-elemen kunci dari pertanyaan tersebut. Dalam IELTS Writing Task 2, soal biasanya punya lebih dari satu instruksi. Misalnya, kamu diminta membahas dua pandangan lalu memberi opini pribadi. Tapi yang ditulis cuma satu pandangan aja.

Contoh nyata: jika topik tentang pro dan kontra teknologi di pendidikan, pastikan kedua sisi dibahas secara seimbang sebelum menyimpulkan opini kamu, karena examiner mencari kemampuan untuk menangani kompleksitas argumen.

Kalau kamu tidak menjawab semua instruksi, nilai Task Response langsung turun. Walaupun grammar kamu bagus, tetap nggak bisa dapat skor tinggi kalau jawabannya nggak lengkap. Untuk menghindari ini, biasakan membuat checklist mental: apakah saya telah membahas semua poin? Apakah opini saya jelas dinyatakan? Ini adalah tips sederhana tapi efektif untuk meningkatkan skor IELTS Writing secara keseluruhan.

Makanya, biasakan sebelum nulis, kamu breakdown dulu pertanyaannya. Tandai semua perintah yang ada, lalu pastikan semuanya dibahas dalam essay kamu. Langkah ini tidak hanya memastikan kelengkapan, tapi juga membantu dalam mengorganisir ide-ide kamu menjadi struktur yang koheren, yang pada akhirnya mendukung aspek cohesion dalam penilaian.

2. Terlalu Fokus ke Grammar, Tapi Lupa dengan Isi

Banyak peserta terlalu takut salah grammar sampai akhirnya tulisannya jadi kaku dan minim ide. Padahal IELTS bukan cuma soal grammar yang sempurna, tapi juga soal seberapa jelas kamu menyampaikan argumen. Fokus berlebih pada grammar sering membuat konten menjadi dangkal, karena energi habis untuk menghindari kesalahan daripada mengembangkan ide yang kuat dan persuasif.

Tulisan yang simpel tapi jelas jauh lebih baik daripada tulisan yang ribet tapi nggak nyambung. Jangan memaksakan struktur kalimat kompleks kalau kamu belum benar-benar nyaman menggunakannya. Sebaliknya, gunakan variasi kalimat sederhana yang mendukung alur cerita, seperti menggabungkan kalimat pendek untuk emphasis dan kalimat panjang untuk penjelasan detail, agar tulisan tetap engaging dan mudah dipahami.

Lebih aman pakai kalimat yang jelas, natural, dan tepat sasaran. Skor kamu tetap bisa tinggi walaupun struktur kalimatnya tidak super akademis. Insight di sini adalah bahwa examiner lebih menghargai komunikasi efektif daripada kesempurnaan teknis, jadi prioritaskan isi yang relevan dengan topik, seperti contoh-contoh dari kehidupan sehari-hari yang mendukung argumen kamu dalam konteks IELTS Writing.

3. Menghafal Template Mentah-Mentah

Template memang membantu, tapi kalau kamu pakai template yang sama persis seperti ribuan peserta lain, itu bisa jadi bumerang. Template standar sering membuat tulisan terasa generik dan kurang autentik, yang bisa menurunkan persepsi examiner tentang kemampuan asli kamu dalam berbahasa.

Examiner IELTS sudah hafal banget template-template pasaran. Kalau tulisan kamu terasa “robotic” dan tidak natural, skor Lexical Resource dan Coherence bisa turun. Untuk mengatasinya, adaptasikan template dengan menambahkan elemen personal, seperti anekdot singkat atau referensi topik terkini, agar esai kamu terasa lebih segar dan relevan dengan pertanyaan spesifik.

Template sebaiknya cuma jadi kerangka dasar. Sisanya harus kamu kembangkan sendiri sesuai konteks soal. Tambahkan sentuhan personal dan variasi bahasa biar tulisan kamu terasa hidup.

4. Tidak Mengembangkan Ide dengan Cukup

Banyak peserta yang punya ide bagus, tapi pengembangannya terlalu tipis. Paragraf hanya berisi satu kalimat utama tanpa penjelasan atau contoh. Pengembangan yang kurang ini sering membuat esai terasa dangkal, padahal IELTS menghargai kedalaman analisis yang menunjukkan pemikiran kritis.

Padahal, IELTS suka jawaban yang punya kedalaman. Setiap ide utama harus dijelaskan dengan detail, lalu diperkuat dengan contoh yang relevan. Misalnya, jika membahas dampak media sosial, jelaskan bagaimana itu mempengaruhi perilaku remaja secara psikologis, lengkap dengan data umum atau hipotetis yang mendukung klaim kamu.

Tidak perlu contoh nyata yang terlalu spesifik, tapi cukup logis dan masuk akal. Misalnya, kalau kamu bicara tentang pendidikan online, jelaskan dampaknya ke siswa dan guru. Tambahkan insight seperti bagaimana pandemi COVID-19 mempercepat adopsi pendidikan online, dan tantangan seperti akses internet yang tidak merata, untuk membuat argumen jadi lebih kaya dan kontekstual.

Baca juga: Mau Kerja di Jerman? Siap-Siap Kaget, Ini Budaya yang Wajib untuk Kamu Ketahui

5. Salah Mengatur Paragraf

Struktur essay itu penting banget. Tapi masih banyak peserta yang nulis tanpa pembagian paragraf yang jelas. Ada juga yang paragrafnya kepanjangan sampai susah dibaca. Struktur yang buruk ini bisa mengganggu alur bacaan, sehingga examiner kesulitan mengikuti logika argumen kamu.

Idealnya, essay Task 2 punya empat sampai lima paragraf: pembuka, dua paragraf isi, dan penutup. Setiap paragraf harus punya satu ide utama yang jelas. Pastikan transisi antar paragraf mulus, seperti menggunakan frasa pembuka yang menghubungkan ide sebelumnya dengan yang baru, untuk meningkatkan skor coherence secara signifikan. Kalau struktur tulisan kamu rapi, examiner juga lebih gampang memahami argumen kamu. Ini otomatis bantu skor Coherence and Cohesion.

Tips praktis: gunakan topic sentence di awal setiap paragraf untuk menyatakan ide utama, kemudian kembangkan dengan supporting details, dan akhiri dengan linking ke paragraf berikutnya jika diperlukan.

6. Overuse Linking Words

Kata penghubung seperti however, moreover, therefore memang penting. Tapi kalau dipakai terlalu sering, justru bikin tulisan kamu terasa dipaksakan. Penggunaan berlebih ini bisa membuat teks terasa mekanis, mengurangi naturalitas yang dicari dalam penilaian lexical resource.

Banyak peserta mikir semakin banyak linking words, maka akan semakin tinggi skor. Padahal yang dinilai adalah ketepatan, bukan jumlah. Fokus pada variasi linking words yang sesuai konteks, seperti menggunakan “in addition” untuk penambahan ide atau “on the other hand” untuk kontras, agar alur tetap logis tanpa berlebihan.

Gunakan linking words secara natural. Jangan pakai kata penghubung kalau tidak benar-benar dibutuhkan. Tulisan yang mengalir tanpa terlalu banyak “hiasan” justru lebih enak dibaca. Latihan membaca esai sampel IELTS bisa membantu kamu memahami bagaimana linking words digunakan secara efektif dalam konteks nyata.

7. Vocabulary Terlalu Dipaksakan

Pakai vocab canggih memang bagus, tapi kalau salah konteks, nilainya bisa turun. Examiner lebih suka kata sederhana tapi tepat, daripada kata sulit tapi salah makna. Kesalahan ini sering terjadi karena tekanan untuk tampil impresif, tapi justru mengorbankan akurasi.

Contohnya, banyak peserta pakai kata “plethora” atau “ubiquitous” tanpa benar-benar paham artinya. Ini riskan banget. Sebaliknya, bangunlah vocabulary secara bertahap melalui pembacaan topik-topik umum IELTS seperti lingkungan, teknologi, dan masyarakat, untuk memastikan penggunaan yang tepat. Fokus ke variasi vocab yang kamu kuasai. Tidak perlu sok akademis. Yang penting akurat dan natural.

8. Mengabaikan Task 1

Banyak peserta terlalu fokus ke Task 2 karena nilainya lebih besar. Tapi Task 1 juga penting, karena tetap mempengaruhi skor Writing secara keseluruhan. Mengabaikannya bisa menurunkan average skor, meskipun Task 2 sempurna.

Kesalahan umum di Task 1 adalah hanya mendeskripsikan grafik tanpa overview. Padahal overview itu wajib banget. Overview harus merangkum tren utama, seperti peningkatan atau penurunan data secara keseluruhan, untuk memberikan konteks sebelum detail.

Kamu juga harus membandingkan data, bukan cuma menyebutkan angka satu per satu. Examiner ingin melihat kemampuan analisis, bukan sekadar laporan data. Tambahkan perbandingan seperti “while category A increased steadily, category B experienced fluctuations,” untuk menunjukkan kemampuan analitik yang lebih tinggi.

9. Tidak Mengatur Waktu dengan Baik

Masih banyak peserta yang kehabisan waktu di Task 2, lalu Task 1 dikerjakan terburu-buru. Padahal dua-duanya dinilai. Manajemen waktu yang buruk ini sering disebabkan oleh overthinking di awal atau revisi berlebihan.

Idealnya, kamu habiskan sekitar 20 menit untuk Task 1 dan 40 menit untuk Task 2. Jangan terlalu lama mikir di awal sampai waktu nulis kepotong. Praktikkan dengan timer untuk membangun kebiasaan, seperti menghabiskan 5 menit untuk planning dan sisanya untuk writing dan checking.

Latihan time management itu wajib. Jangan cuma latihan nulis tanpa timer. Simulasi ujian lengkap secara rutin bisa membantu kamu menyesuaikan ritme, sehingga pada hari H, kamu lebih tenang dan efisien dalam mengalokasikan waktu.

10. Lupa Proofreading

Ini kesalahan kecil tapi efeknya besar. Banyak peserta tidak sempat mengecek ulang tulisan mereka. Proofreading yang terlewat bisa membiarkan kesalahan sederhana yang sebenarnya mudah diperbaiki.

Padahal, typo kecil, kesalahan tenses, atau plural bisa bikin skor grammar turun. Sisakan minimal 3 sampai 5 menit di akhir untuk proofreading. Fokus pada aspek seperti spelling, punctuation, dan consistency dalam penggunaan tense untuk memaksimalkan skor. Kadang cuma dengan memperbaiki beberapa kesalahan kecil, skor bisa naik setengah band.

Tips: baca tulisan dari belakang ke depan untuk mendeteksi kesalahan secara lebih efektif, karena mata lebih segar melihat detail yang biasanya terlewat.

Baca juga: 5 Hal Unik tentang Bahasa Jerman yang Bikin Kaget tapi Bikin Penasaran

11. Kurang Latihan dengan Feedback Profesional

Latihan sendiri itu penting, tapi tanpa feedback, kamu tidak tahu kesalahan kamu di mana. Banyak peserta merasa tulisannya sudah bagus, padahal masih banyak masalah mendasar. Feedback dari para profesional bisa mengungkap blind spots seperti pola kesalahan berulang yang tidak disadari.

Feedback dari tutor atau mentor IELTS bisa membuka mata kamu tentang kelemahan yang tidak kamu sadari. Mereka bisa memberikan saran spesifik, seperti bagaimana meningkatkan task response atau variasi lexical, berdasarkan standar IELTS resmi.

Ini salah satu alasan kenapa banyak orang stuck di band 6 walaupun sudah latihan lama. Dengan feedback rutin, kamu bisa melacak kemajuan dan menyesuaikan strategi, yang membuat persiapan IELTS Writing jadi lebih efisien dan targeted.

12. Tidak Membaca Band Descriptor

Band descriptor itu panduan resmi penilaian IELTS. Tapi sayangnya, jarang banget peserta yang benar-benar membacanya. Descriptor ini menjelaskan secara detail apa yang diharapkan untuk setiap band score di masing-masing kriteria.

Kalau kamu tahu apa yang dibutuhkan untuk band 7 atau 8, kamu bisa menyesuaikan cara menulis kamu sejak awal. Ini jauh lebih efektif daripada sekadar latihan random. Misalnya, untuk band 7 di grammatical range, kamu perlu menunjukkan variasi struktur yang akurat, jadi fokuslah pada itu dalam latihan.

Mau Skor IELTS Writing Kamu Naik Lebih Cepat?

IELTS Writing itu bukan cuma soal pintar bahasa Inggris, tapi juga soal strategi. Banyak peserta sebenarnya sudah punya kemampuan yang cukup, tapi skornya tidak maksimal karena melupakan hal-hal dasar. Dengan mengintegrasikan tips-tips ini ke dalam rutinitas latihan, kamu bisa melihat perbaikan yang konsisten dan berkelanjutan.

Kalau kamu mulai memperhatikan tips-tips di atas, peluang kamu untuk naik band score bakal jauh lebih besar. Tidak perlu perubahan besar, cukup perbaikan kecil tapi konsisten. Ingat, konsistensi adalah kunci dalam persiapan IELTS, di mana latihan harian dengan refleksi bisa membawa hasil yang signifikan dalam waktu singkat.

Kalau kamu merasa belajar sendiri terlalu lama dan butuh arahan yang lebih jelas, Ultimate Education siap jadi partner terbaik kamu. Di sini, kamu bisa dapat kursus dan bimbingan IELTS dengan metode terstruktur, plus feedback detail untuk Writing yang jarang banget kamu dapat dari latihan mandiri. Program kami dirancang untuk menargetkan kelemahan spesifik, memastikan kemajuan yang measurable dan efisien.

Selain itu, Ultimate Education juga menyediakan jasa penerjemah profesional buat kamu yang butuh dokumen akademik atau profesional dalam bahasa Inggris dengan kualitas rapi dan akurat. Layanan ini ideal untuk mendukung aplikasi studi atau kerja internasional, di mana akurasi bahasa sangat krusial.

Kalau kamu serius pengen skor IELTS naik tanpa buang waktu, Ultimate Education bisa jadi pilihan yang tepat buat kamu mulai sekarang. Hubungi kami untuk konsultasi gratis dan mulai perjalananmu menuju skor IELTS impian dengan dukungan ahli yang terpercaya.