
Hai, temen-temen! Pengen tampil profesional dan pede di dunia kerja, terutama saat deal sama klien internasional atau rapat dengan tim global? Kuasai Business English, bro! Di era digital 2025 ini, kemampuan berbahasa Inggris bisnis bukan lagi opsional, melainkan keharusan bagi siapa saja yang ingin naik jabatan, menarik investor asing, atau bahkan membangun startup yang go international. Business English membantu kamu menyampaikan ide dengan jelas, membangun kepercayaan, dan menghindari miskomunikasi yang bisa merugikan jutaan rupiah. Bayangkan saja, satu email yang salah paham bisa membuat klien kabur atau proyek terhambat berbulan-bulan. Dengan frasa yang tepat, kamu tidak hanya terdengar pintar, tapi juga terlihat sebagai profesional yang siap bersaing di pasar global.
Bahasa Inggris untuk keperluan bisnis punya frasa-frasa khusus yang bikin komunikasimu mulus dan terkesan pro. Frasa-frasa ini bukan sekadar kata-kata keren, tapi alat strategis yang digunakan para CEO, manager, dan profesional di perusahaan Fortune 500 seperti Apple, Microsoft, dan Alibaba. Frasa ini telah teruji di berbagai situasi, mulai dari rapat boardroom, negosiasi kontrak bernilai miliaran, hingga presentasi di depan investor ventura. Yuk, kita kupas 10 frasa Bahasa Inggris wajib untuk dunia profesional, lengkap dengan contoh penggunaan nyata di berbagai industri, tips praktis untuk pemula hingga expert, variasi kalimat untuk fleksibilitas, serta insight psikologi komunikasi yang jarang dibahas di buku teks. Setelah membaca artikel panjang ini, kamu akan siap langsung menerapkannya di email, presentasi, meeting Zoom, atau bahkan saat networking di acara bisnis internasional besok pagi!
Oh iya, kalau pengen jago General English, Business English, atau nyiapin tes IELTS/TOEFL untuk karir global, cek solusi kece di Ultimate Education ya! Mereka punya program khusus yang dirancang oleh native speaker dan alumni universitas top dunia seperti Oxford, Harvard, dan NUS, lengkap dengan simulasi wawancara kerja di perusahaan multinasional, feedback personal dari tutor bersertifikasi CELTA, dan akses ke komunitas alumni yang aktif berbagi peluang karir. Banyak alumni yang berhasil lolos interview di Google, McKinsey, Deloitte, bank multinasional seperti HSBC dan Standard Chartered, serta startup unicorn seperti Gojek dan Tokopedia berkat kursus intensif di sini. Program mereka juga mencakup persiapan tes resmi dengan prediksi soal terupdate dan strategi time management yang terbukti meningkatkan skor rata-rata 1.5 band dalam 3 bulan.
Baca juga: Singlish! Bahasa Inggris Kreol dari Singapura yang Penuh Warna
Kenapa Frasa Business English Itu Penting?
Di dunia kerja 2025, kemampuan Bahasa Inggris profesional adalah kunci untuk membuka peluang karir yang lebih luas dan meningkatkan daya saing di pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif. Menurut laporan World Economic Forum tentang Future of Jobs 2025, kemampuan komunikasi lintas budaya dan penguasaan bahasa asing, khususnya Business English, termasuk dalam 10 skill teratas yang dicari perusahaan hingga 2030, bersanding dengan keterampilan seperti analytical thinking, innovation, dan leadership. Di Indonesia sendiri, data dari Jobstreet dan LinkedIn menunjukkan bahwa lowongan kerja dengan syarat “fluent in Business English” meningkat 58% dalam 2 tahun terakhir, terutama di sektor teknologi, keuangan, dan manufaktur. Berikut alasan mendalam dan berbasis data mengapa menguasai frasa Business English sangat krusial untuk karirmu:
- Komunikasi Efektif: Bikin klien, bos, atau kolega ngerti maksudmu tanpa bingung. Dalam survei Harvard Business Review yang melibatkan 1.200 eksekutif global, 67% kegagalan proyek disebabkan oleh miskomunikasi, baik karena bahasa yang ambigu maupun tone yang salah. Frasa Business English yang tepat mengurangi ambiguitas, mempercepat pengambilan keputusan, dan meningkatkan efisiensi tim hingga 30% menurut studi McKinsey.
- Kredibilitas dan Personal Branding: Bahasa yang tepat bikin kamu terlihat kompeten dan percaya diri. Penelitian dari Stanford University yang diterbitkan di Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa profesional yang menggunakan bahasa formal, idiomatik, dan frasa bisnis spesifik dinilai 25% lebih kompeten dan 18% lebih layak dipromosikan oleh rekan kerja serta atasan. Ini karena otak manusia cenderung mengasosiasikan kefasihan bahasa dengan kecerdasan dan leadership.
- Karir Global dan Mobilitas Internasional: Perusahaan multinasional seperti Google, Unilever, atau Garuda Indonesia cari kandidat yang fasih Business English. Data LinkedIn Economic Graph 2024 menunjukkan lowongan dengan syarat “Business English fluency” meningkat 42% dibanding tahun sebelumnya, dengan gaji rata-rata 35% lebih tinggi. Di Asia Tenggara, perusahaan seperti Grab, Shopee, dan Lazada bahkan memberikan bonus tahunan bagi karyawan yang mencapai skor IELTS 7.0 atau TOEFL iBT 100.
- Networking dan Relationship Building: Frasa profesional bantu bangun relasi di acara bisnis atau LinkedIn. Dalam konferensi besar seperti Web Summit, Davos, atau TEDx, penggunaan frasa yang tepat bisa membuka pintu kolaborasi bernilai miliaran. Sebuah studi dari Harvard Business School menemukan bahwa 85% kesuksesan karir berasal dari kemampuan networking, dan Business English adalah bahasa universal di jaringan profesional global.
- Negosiasi Sukses dan Deal Closure: Frasa seperti “win-win situation” atau “circle back to this” membantu menciptakan kesepakatan yang saling menguntungkan tanpa terkesan agresif atau defensif. Menurut buku klasik “Getting to Yes” oleh Roger Fisher, penggunaan bahasa netral dan kolaboratif meningkatkan tingkat keberhasilan negosiasi hingga 60%.
- Adaptasi di Era Hybrid Work: Dengan semakin banyaknya meeting virtual dan kolaborasi lintas zona waktu, Business English menjadi alat untuk menjaga produktivitas di era WFH dan remote work. Frasa seperti “keep me in the loop” atau “touch base” sangat efektif di platform seperti Slack, Microsoft Teams, atau Google Meet.
Fakta Seru: Menurut LinkedIn Talent Solutions Report 2024, 80% recruiter di Asia-Pasifik menilai kemampuan Business English sebagai salah satu soft skill terpenting! Bahkan, kandidat dengan skor IELTS 7.0+ atau TOEFL iBT 94+ memiliki peluang 3x lebih besar untuk dipanggil interview di perusahaan Big Four (PwC, Deloitte, EY, KPMG) dan 5x lebih besar untuk posisi C-level di startup unicorn. Selain itu, 92% CEO global setuju bahwa karyawan dengan Business English yang baik lebih mungkin dipromosikan dalam 2 tahun pertama.
10 Frasa Bahasa Inggris untuk Bisnis dan Dunia Profesional
1. “Let’s touch base”
Arti: Mari kita koordinasi atau diskusi singkat. Frasa ini berasal dari olahraga baseball Amerika, di mana pemain harus “menyentuh base” untuk memastikan posisi aman sebelum melanjutkan permainan. Dalam konteks bisnis, frasa ini menekankan pentingnya sinkronisasi singkat untuk menjaga alignment tim.
Konteks: Digunakan untuk mengatur meeting atau follow-up tanpa terdengar terlalu formal atau kaku. Cocok untuk berbagai channel komunikasi seperti email korporat, pesan instan di Slack, WhatsApp bisnis, atau bahkan saat menutup presentasi. Frasa ini sangat populer di kalangan startup dan perusahaan teknologi karena sifatnya yang efisien dan tidak membuang waktu.
Contoh: “Can we touch base next week to discuss the project timeline and resource allocation?”
(Bisakah kita koordinasi minggu depan untuk bahas jadwal proyek dan alokasi sumber daya?)
Variasi 1: “Let’s touch base briefly on the Q4 sales targets before the board meeting.”
Variasi 2: “I’ll send a calendar invite so we can touch base on the client feedback.”
Tips: Gunakan frasa ini di email atau saat menutup rapat untuk janjian follow-up. Tambahkan waktu spesifik (misalnya “Selasa pukul 10 pagi WIB”) untuk meningkatkan respons rate hingga 30%, menurut studi email marketing dari HubSpot. Hindari penggunaan di situasi yang sangat formal seperti kontrak hukum; ganti dengan “schedule a formal review”.
2. “Keep me in the loop”
Arti: Informasikan saya tentang perkembangan terkini. Frasa ini menunjukkan bahwa kamu tetap ingin terlibat dan mendapatkan update tanpa harus hadir atau terlibat di setiap detail diskusi, sehingga menunjukkan efisiensi manajerial.
Konteks: Minta update tanpa harus ikut semua detail diskusi. Sering digunakan saat cuti tahunan, WFH, saat mendelegasikan tugas kepada junior, atau saat ada proyek paralel yang memerlukan monitoring pasif. Frasa ini sangat efektif dalam budaya kerja flat hierarchy seperti di perusahaan teknologi.
Contoh: “I won’t be at the client meeting due to another commitment, but please keep me in the loop on the key decisions and action items.”
(Saya nggak bisa ikut rapat klien karena komitmen lain, tapi tolong kabari soal keputusan kunci dan tindakan lanjutannya.)
Variasi 1: “Keep me in the loop via email if there are any changes to the launch date.”
Variasi 2: “Please keep me in the loop on the vendor negotiation progress.”
Tips: Cocok untuk komunikasi dengan tim atau saat delegasi tugas. Frasa ini menunjukkan leadership yang inklusif dan mencegah informasi terputus (information silo). Selalu balas update yang diterima dengan “Thanks for keeping me in the loop” untuk membangun budaya saling menghargai.
3. “Let’s get the ball rolling”
Arti: Mari kita mulai atau memulai aksi. Frasa ini berasal dari olahraga sepak bola atau rugby, menggambarkan bola yang mulai bergerak setelah kick-off, melambangkan transisi dari perencanaan ke eksekusi.
Konteks: Digunakan untuk memulai proyek, rapat, inisiatif baru, atau fase eksekusi setelah perencanaan selesai. Memberikan energi positif, dorongan aksi, dan rasa urgensi yang sehat tanpa terdengar memaksa. Sangat populer di metodologi Agile dan Scrum.
Contoh: “We’ve finalized the marketing plan and secured the budget, so let’s get the ball rolling on this social media campaign starting Monday.”
(Kita udah finalisasi rencana pemasaran dan amankan anggaran, jadi ayo mulai kampanye media sosial ini mulai Senin.)
Variasi 1: “Let’s get the ball rolling with the client onboarding process right after this meeting.”
Variasi 2: “Time to get the ball rolling on our Q1 OKRs.”
Tips: Gunakan untuk nunjukin semangat dan dorong tim bergerak cepat. Efektif di awal sprint Agile, kick-off meeting, atau saat meluncurkan produk baru. Penelitian Gallup tentang employee engagement menunjukkan tim dengan leader yang energik dan menggunakan bahasa motivasi memiliki produktivitas 21% lebih tinggi dan turnover 37% lebih rendah.
4. “I’d like to weigh in on this”
Arti: Saya ingin memberikan pendapat atau masukan. “Weigh in” berasal dari dunia tinju, di mana petinju ditimbang sebelum bertanding untuk memastikan kelas yang adil, melambangkan kontribusi yang proporsional dan terukur.
Konteks: Saat ingin menyumbang ide dalam diskusi tanpa mengganggu alur pembicaraan atau terlihat dominan. Cocok untuk rapat besar, forum online, atau saat ada perbedaan pendapat yang perlu diselesaikan secara konstruktif.
Contoh: “Before we finalize the decision, I’d like to weigh in on the potential risks of the marketing strategy we’re considering.”
(Sebelum kita putuskan, saya ingin kasih pendapat soal risiko potensial dari strategi pemasaran yang sedang dipertimbangkan.)
Variasi 1: “May I weigh in on the budget allocation for the R&D department?”
Variasi 2: “I’d like to weigh in briefly on the user experience concerns.”
Tips: Frasa ini sopan dan bikin kamu terlihat aktif tanpa memaksakan opini. Gunakan di rapat besar atau forum online seperti Microsoft Teams untuk menarik perhatian moderator. Kombinasikan dengan data atau contoh konkret untuk meningkatkan bobot masukanmu.
Baca juga: Jauhi 9 Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Mendaftar SNBP!
5. “Can we circle back to this?”
Arti: Bisa kita bahas lagi nanti atau kembali ke topik ini? Menggambarkan gerakan melingkar kembali ke titik awal, seperti roda yang berputar.
Konteks: Menunda diskusi topik tertentu untuk fokus ke hal lain yang lebih prioritas atau mendesak. Sangat berguna dalam rapat yang waktu terbatas atau saat ada agenda yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Contoh: “This is a good point about employee wellness, but can we circle back to it after we’ve reviewed the quarterly budget and KPIs?”
(Ini poin bagus soal kesejahteraan karyawan, tapi bisa kita bahas lagi setelah cek anggaran kuartalan dan KPI?)
Variasi 1: “Let’s circle back to the design feedback tomorrow during the sprint review.”
Variasi 2: “Can we circle back to the partnership terms once legal has reviewed the contract?”
Tips: Gunakan di rapat panjang untuk mengatur prioritas diskusi dan menjaga fokus. Selalu catat topik yang ditunda di meeting minutes atau action items agar tidak terlupakan. Frasa ini juga menunjukkan kemampuan manajemen waktu yang baik.
6. “Let’s put a pin in it”
Arti: Tunda dulu pembahasannya untuk sementara. Berasal dari papan cork di kantor lama, di mana ide atau dokumen “disematkan” dengan pin untuk ditinjau kembali nanti.
Konteks: Mirip “circle back”, tapi lebih untuk menunda topik yang kurang urgent, membutuhkan data tambahan, atau tidak relevan dengan agenda saat ini. Cocok untuk situasi di mana waktu sangat terbatas.
Contoh: “We’re running short on time for today’s stand-up, so let’s put a pin in the branding discussion and revisit it in Friday’s deep-dive session.”
(Waktu kita terbatas untuk stand-up hari ini, jadi tunda dulu pembahasan branding dan kita bahas ulang di sesi Jumat.)
Variasi 1: “Let’s put a pin in the expansion plan until Q1 financial results are finalized.”
Variasi 2: “Good idea, but let’s put a pin in it until marketing provides the data.”
Tips: Cocok untuk rapat sibuk atau saat perlu fokus ke agenda utama. Gunakan dengan senyum atau nada positif untuk menjaga suasana tetap kolaboratif. Pastikan ada follow-up yang jelas agar topik tidak “hilang”.
7. “I’m on the same page”
Arti: Saya setuju atau sependapat sepenuhnya. Menggambarkan membaca halaman buku yang sama, melambangkan alignment visi dan tujuan.
Konteks: Menunjukkan keselarasan dengan ide, rencana, atau strategi tim, memperkuat kolaborasi dan rasa kebersamaan. Sangat efektif saat ada potensi konflik atau saat perlu konfirmasi cepat.
Contoh: “After reviewing your proposal, I’m completely on the same page with you regarding the new product launch strategy and timeline.”
(Setelah tinjau proposalmu, saya sepenuhnya sependapat soal strategi dan jadwal peluncuran produk baru.)
Variasi 1: “Glad we’re on the same page about extending the deadline to ensure quality.”
Variasi 2: “I’m on the same page—just need clarification on the budget split.”
Tips: Gunakan untuk membangun kolaborasi dan harmoni dalam tim. Frasa ini juga efektif saat negosiasi untuk menunjukkan konsensus awal sebelum masuk ke detail. Tambahkan alasan singkat untuk memperkuat argumenmu.
8. “Let’s think outside the box”
Arti: Mari cari solusi kreatif di luar kebiasaan atau kerangka berpikir konvensional. Frasa klasik yang diciptakan oleh konsultan manajemen pada 1970-an untuk mendorong inovasi.
Konteks: Mengajak tim untuk ide-ide inovatif di luar prosedur standar, terutama saat solusi tradisional gagal atau saat menghadapi tantangan baru seperti disrupsi teknologi.
Contoh: “Our current digital marketing approach isn’t yielding the expected ROI, so let’s think outside the box—perhaps a metaverse activation or AI-generated content?”
(Pendekatan pemasaran digital kita sekarang nggak memberikan ROI yang diharapkan, jadi ayo cari ide kreatif—mungkin aktivasi di metaverse atau konten buatan AI?)
Variasi 1: “Time to think outside the box for our customer retention strategy.”
Variasi 2: “Let’s think outside the box to reduce operational costs without layoffs.”
Tips: Gunakan saat brainstorming untuk dorong kreativitas. Kombinasikan dengan teknik seperti SCAMPER, mind mapping, atau design thinking. Berikan contoh konkret untuk memandu tim, dan hindari penggunaan berulang agar tidak kehilangan impact.
9. “It’s a win-win situation”
Arti: Situasi yang menguntungkan semua pihak yang terlibat. Konsep ini berasal dari teori permainan (game theory) oleh matematikawan John Nash, pemenang Nobel Ekonomi.
Konteks: Menjelaskan solusi, kesepakatan, atau kolaborasi yang adil dan saling menguntungkan. Sangat powerful dalam negosiasi, partnership, atau saat meyakinkan stakeholder.
Contoh: “By co-branding this campaign, we gain access to your audience while you benefit from our technology—it’s a true win-win situation for both companies.”
(Dengan co-branding kampanye ini, kita dapat akses audiensmu sementara kamu dapat manfaat dari teknologi kami—ini situasi win-win sejati bagi kedua perusahaan.)
Variasi 1: “The flexible hours policy is a win-win: employees get better work-life balance, and productivity increases by 15%.”
Variasi 2: “This revenue-sharing model is a win-win for sustainability and profitability.”
Tips: Cocok untuk negosiasi atau presentasi ke klien. Frasa ini meningkatkan kemungkinan deal closure hingga 40%, menurut studi negosiasi Harvard Business School. Selalu dukung dengan data kuantitatif untuk memperkuat klaim “win-win”.
10. “I’ll get back to you”
Arti: Saya akan balas atau memberikan jawaban nanti. Menunjukkan profesionalisme, tanggung jawab, dan manajemen ekspektasi yang baik.
Konteks: Memberi tahu bahwa kamu perlu waktu untuk menjawab, mengecek data, berkonsultasi dengan tim, atau memverifikasi informasi, sehingga mencegah janji kosong atau jawaban tergesa-gesa.
Contoh: “I don’t have the latest sales figures right now, but I’ll get back to you with a detailed report by end of day tomorrow.”
(Saya belum punya data penjualan terbaru sekarang, tapi akan balas dengan laporan lengkap sebelum akhir hari besok.)
Variasi 1: “I’ll get back to you with the revised proposal by 3 PM WIB.”
Variasi 2: “Let me confirm with legal first, and I’ll get back to you within 24 hours.”
Tips: Gunakan di email atau percakapan untuk tunjukin profesionalisme. Selalu cantumkan deadline spesifik (tanggal, jam, zona waktu) untuk membangun kepercayaan dan menghindari follow-up berulang. Jika terlambat, kirim update proaktif dengan alasan dan ETA baru.
Baca juga: Bedanya Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Akademi & Politeknik
Tips Menggunakan Frasa Business English Secara Efektif
Menguasai frasa saja tidak cukup—if you want to sound like a native professional, you need strategy. Berikut tips komprehensif, berbasis riset, dan praktis agar penggunaan Business English-mu natural, efektif, dan meningkatkan personal branding di mata atasan, klien, dan rekan kerja:
- Pahami Konteks dan Hierarki: Pastikan frasa sesuai situasi dan level lawan bicara. Misalnya, “think outside the box” cocok untuk brainstorming dengan tim sebaya, tapi ganti dengan “explore innovative alternatives” saat presentasi ke CEO. Pelajari budaya perusahaan target—di startup Silicon Valley, frasa santai diterima; di bank Swiss, formalitas lebih dihargai.
- Latihan Pengucapan dan Intonasi: Ucapkan frasa dengan jelas, pede, dan intonasi naik di akhir kalimat untuk pertanyaan. Gunakan app seperti ELSA Speak, Speechling, atau Cambly untuk latihan aksen American/British. Rekam diri sendiri saat role-play meeting, lalu bandingkan dengan native speaker di YouTube (channel seperti BBC Learning English atau English with Lucy).
- Gunakan di Email dan Dokumen Resmi: Tulis email profesional dengan subject line spesifik, salam pembuka yang tepat, frasa bisnis di body, dan CTA jelas. Contoh: “Subject: Follow-Up on Q4 Strategy – Let’s Touch Base”. Gunakan template email dari Harvard Business Review untuk inspirasi.
- Kuasai Tata Bahasa Pendukung: Frasa ini butuh grammar tingkat lanjut seperti conditional sentences (If we launch in Q1, we’ll capture 20% market share), passive voice (The report was finalized by marketing), dan reported speech (The client said they’d get back to us by Friday). Ikut English course di Ultimate Education dengan kurikulum berbasis Cambridge Business English Certificate (BEC).
- Praktik dengan Role-Play Realistis: Simulasi rapat, negosiasi, atau wawancara dengan teman, tutor, atau AI. Ultimate Education menyediakan Business English Role-Play Session dengan 50+ skenario nyata: client pitch, performance review, crisis management, hingga merger negotiation.
- Tonton dan Dengar Konten Bisnis Autentik: Dengar podcast seperti HBR IdeaCast, The Diary of a CEO, atau How I Built This. Tonton TED Talk tentang leadership (Simon Sinek, Amy Cuddy). Catat 3 frasa baru setiap episode, gunakan dalam 24 jam, dan ulangi hingga otomatis.
- Ambil Sertifikasi Bahasa Resmi: IELTS (minimal Band 6.5, ideal 7.5 untuk manajerial), TOEFL iBT (80+), atau BEC Vantage/Higher. Sertifikat ini bukan hanya bukti di CV, tapi juga meningkatkan kepercayaan diri. Banyak perusahaan memberikan bonus Rp5–20 juta per tahun bagi karyawan bersertifikat.
- Bangun Vocabulary Spesifik Industri: Pelajari istilah seperti “ROI”, “KPI”, “synergy”, “disruptive innovation”, “burn rate”, atau “customer lifetime value” sesuai bidangmu. Gunakan tools seperti Quizlet atau Anki untuk flashcard harian.
- Gunakan di Media Sosial Profesional: Terapkan frasa di LinkedIn post, comment, atau InMail. Contoh: “Great insights, John! I’d love to touch base on potential collaboration.” Ini meningkatkan visibilitas dan personal branding.
Butuh Bantuan Business English? Ultimate Education Solusinya!
Business English adalah kunci untuk sukses di perusahaan multinasional, startup global, atau bahkan saat menjadi freelancer internasional. Banyak posisi manajerial, business development, atau klien internasional mensyaratkan skor IELTS 6.5–7.5 atau TOEFL iBT 80–100 sebagai bukti kemampuan komunikasi tertulis dan lisan. Tanpa kemampuan ini, peluang promosi, ekspansi bisnis, atau kontrak baru bisa terhambat drastis.
Ultimate Education punya kursus IELTS, kursus TOEFL, les privat one-on-one, kelas grup kecil (max 6 orang), dan English course intensif yang asik dan berorientasi hasil. Program Business English Intensive mereka mencakup 4 skill utama: Speaking (negotiation, presentation, small talk), Writing (business report, proposal, email etiquette), Listening (conference call, earnings call, podcast), dan Reading (The Economist, Financial Times, Harvard Business Review). Setiap sesi diajarkan oleh tutor native speaker atau bilingual dengan pengalaman 10+ tahun di korporasi global.
Selain kursus, Ultimate Education juga menyediakan jasa translate dokumen bisnis (kontrak, laporan keuangan, company profile) dengan akurasi 99.9% menggunakan CAT Tools seperti MemoQ dan SDL Trados, serta jasa interpreter simultan/konsekutif untuk rapat, konferensi, atau factory visit. Tim penerjemah dan interpreter mereka bersertifikasi ITI, ATA, atau HPI dan telah menangani klien seperti Pertamina, Telkomsel, dan Astra International.
Butuh bantuan lebih lanjut? Cek www.ultimateducation.co.id untuk info promo early bird (diskon hingga 30%), jadwal kelas fleksibel (pagi, siang, malam, weekend), konsultasi gratis dengan konselor karir, atau trial class tanpa biaya. Hubungi WhatsApp resmi mereka untuk assessment level gratis dan rekomendasi program yang sesuai dengan target karirmu.
Yuk, Tampil Profesional dan Raih Karir Impian dengan Business English!
Dengan 10 frasa ini—dari “let’s touch base” untuk koordinasi, “keep me in the loop” untuk update, hingga “it’s a win-win situation” untuk negosiasi—kamu bisa tampil percaya diri, profesional, dan siap bersaing di dunia kerja global. Praktikkan frasa ini setiap hari di rapat, email, presentasi, negosiasi, atau bahkan saat ngobrol santai dengan rekan kerja asing. Ingat: bahasa adalah investasi terbesar untuk masa depan profesionalmu. Para miliarder seperti Elon Musk, Jack Ma, dan Satya Nadella mengakui bahwa kemampuan bahasa asing, terutama Business English, membuka 80% peluang bisnis dan inovasi mereka.
Yuk, mulai langkah pertamamu sekarang juga dengan mendaftar kursus Business English di Ultimate Education! Dapatkan bonus eksklusif: e-book “100 Business English Phrases for Career Success”, 1 sesi konsultasi karir gratis dengan headhunter, dan akses ke job board eksklusif dengan lowongan dari perusahaan multinasional. Ayo, gaspol raih karir impian—posisi manager, director, atau bahkan CEO—di dunia profesional yang semakin kompetitif. Jangan tunggu sampai kompetitormu melesat duluan—investasi di skill bahasa adalah investasi di masa depanmu yang paling menguntungkan!
